5 FENOMENA DI BLORA KALA LEBARAN TIBA

Blora Lebaran, atau Hari Raya Idul Fitri menjadi peristiwa puncak dalam rangkaian perjuangan umat islam sepanjang bulan puasa dalam menahan hawa nafsu. Identik dengan sikap saling memaafkan dan saling berbagi, Lebaran menjadi fenomena ishlah (rekonsiliasi) besar-besaran yang terjadi tiap tahun. Di banyak daerah, Lebaran dirayakan dengan berbagai cara dan dirangkai dengan banyak kegiatan sehingga lebih semarak. Berikut ini 5 fenomena di Blora ketika lebaran tiba.

 

 

  1. Mudik

Mudik Lebaran dilakukan oleh para perantau dari berbagai kota untuk kembali ke daerah asalnya, termasuk para perantau Blora. Desa di Blora yang semula tidak cukup ramai, mendadak dipenuhi wajah-wajah asing. Mudik tetap dilakukan walaupun para perantau ini sedang merugi dalam usahanya. Keriduan pada kampung halaman ini membuat para perantau berusaha kembali ke tanah asal kala lebaran tiba.

  1. Ucapan Selamat.

Ucapan Selamat Lebaran, satu dekade yang lalu masih dikirimkan via pos. Namun sejak internet dan ponsel pintar menjamur di masyarakat, ucapan selamat kini disampaikan melalui dunia maya. Selain itu, peran media cetak dalam menyebarkan ucapan selamat dan ajakan saling memaafkan ketika lebaran juga sangat besar.

  1. Ziarah Kubur / Nyekar

Di desa Buloh, kecamatan  Kunduran fenomena ziarah kubur menjelang sholat Idul Fitri menjadi agenda tahunan. Di desa-desa lain, ziarah kubur dilakukan sehari sebelum lebaran atau setelah sholat Ied. Kerinduan kepada mereka yang telah wafat membuat ziarah kubur menjadi salah satu agenda agenda utama kala lebaran tiba.

  1. Sungkem / Kunjung

Hampir merata, setelah Sholat Ied tradisi sungkem masih dilestarikan di Blora. Anak-anak muda bergerombol meminta maaf dari satu rumah ke rumah yang lain, bahkan berkeliling kampung untuk meminta maaf. Anak-anak yang sedang sungkem ini, mendapatkan salam tempel sebagai tambahan uang saku dari tuan rumah. Dalam konteks yang lebih luas, banyak dilaksanakan halal bi halal disertai pertemuan alumni di berbagai sekolah ataupun institusi.

  1. Kupatan

Di Blora, tradisi kupatan tidak dilakukan tepat ketika 1 Syawwal tiba, melainkan dimulai pada tanggal 7 Syawwal. Seperti namanya, Kupatan merupakan momentum umat muslim di Blora membuat ketupat sebagai simbol ucapan permintaan maaf yang tulus (Kupat : Ngaku Lepat / pengakuan atas kesalahan). Selain membuat ketupat, umat muslim Blora juga membuat lepet (jajanan dari beras ketan yang dibungkus janur (daun kelapa)).

Artikel ditulis oleh : Nur Alfiani, mahasiswi semester VII STAI Al Muhammad Cepu jurusan Ekonomi Syariah. Penulis merupakan wakil presiden BEM STAI Al Muhammad dan Sekretaris Kopri (Korps PMII Putri) PC PMII Blora.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.