fbpx

BEKSAN LAWUNG, TARI CIPTAAN SRI SULTAN HB I DIPENTASKAN DI PENDOPO BUPATI BLORA




Blora – Para penari dari ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta menampilkan tarian Beksan Lawung yang berusia ratusan tahun di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (29/11). Tantu saja, penampilan para penari ini memukau para penonton dari segenap OPD (Organisasi Perangkat Daerah) serta guru dan siswa dari sejumlah sekolah menengah atas se- Blora.

 

Tari Beksan Lawung dimainkan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (29/11).

 

Tarian Beksan Lawung diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi, penguasa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1755 – 1792. 

Tarian ini menggambarkan prajurit Kesultanan yang sedang berlatih perang, membawa tombak dan mengendarai kuda. 

Dalam bahasa jawa, Tombak biasa disebut watang atau lawung. Dalam tarian ini, para penari membawa tombak sepanjang tiga meter berujung tumpul. Satu lawan satu, para penari saling beradu tombak dengan gerakan yang gemulai.

Pada masa itu, saat Sri Sultan Hamengku Buwono I berkuasa, VOC melarang prajurit Kesultanan berlatih perang dengan menggunakan senjata. Sri Sultan tak kurang akal, diperintahkannya para prajurit berlatih menari dengan tombak tumpul. Hal ini menumbuhkan etos kepahlawanan para prajurit Kesultanan.

Para penari dalam Tarian Beksan berjumlah 40 orang, mengenakan celana pendek, kain samping atau selendang dan blangkon. Tarian ini ditampilkan dalam tiga beksan (babak). Jika dipentaskan secara lengkap, dibutuhkan waktu hingga lima jam untuk menarikan tarian ini. Gamelan Kyai Guntur Sri mengalun mantap mengiringi tarian ini tanpa henti.

Mulanya, tarian ini hanya diajarkan kepada prajurit atau penari kraton dan tidak diperbolehkan ditampilkan di luar kraton. Sejak tahun 1918, atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono VII tarian ini boleh ditampilkan di luar kraton dan diajarkan kepada masyarakat.

Pementasan Tarian Beksan Lawung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora ini, dipantau secara langsung oleh Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Yudiaryani. Dalam sambutannya, Yudiaryani mengakui kekayaan budaya Kabupaten Blora. Hal ini menjadi salah satu alasan dilaksanakannya Diseminasi dan  Praktek Kerja Profesi Mahasiswa ISI di Kabupaten Blora.

Reporter : Jacko Priyanto/ Niam Djamil

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.