FESTIVAL CERITA DARI BLORA GAGAL TAMPILKAN PRAMOEDYA SEBAGAI IKON UTAMA




Blora – Gelaran Festival Cerita Dari Blora, yang berlangsung mulai Rabu (12/09) kemarin, dinilai gagal menampilkan Maestro Sastra, Pramoedya Ananta Toer, sebagai ikon utama. Sejumlah sastrawan yang hadir menilai, Pram justru terabaikan dalam festival ini.

“Menurut saya gagal. Karena sastra dalam acara ini sangat minim. Walau di posternya tertulis Sastra Blora, Sastra Dunia,” tegas Saut Situmorang, sastrawan yang juga menjadi narasumber dalam Festival Cerita Dari Blora, Sabtu (15/09).

 

Pramedya Ananta Toer, ikon utama Festival Cerita Dari Blora.

 

Saut yang dikenal sebagai editor dan kurator sastra ini menilai, Rumah Masa Kecil Pram yang seharusnya menjadi sentral kegiatan, justru terkesan diabaikan. Berbagai macam acara dalam festival ini justru membuat sosok Pram dan sastranya semakin kabur.

“Rumah Pram malah terkesan terabaikan dan diisi dengan acara-acara yang sama sekali tidak ada kaitannya, baik dengan sosok Pram sebagai Sastrawan Besar Indonesia, maupun isu Sastra sendiri,” ujarnya menyayangkan.

Senada, kekecewaan pun diungkapkan Dwi Cipta, penulis esai, cerita dan novel yang hadir dalam festival ini. Dia menilai banyak panitia yang tidak menguasai tema Pramoedya. Sehingga, korelasi Pramoedya dengan Blora gagal disampaikan.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.