HABIB MUSTHOFA AL IDRUS: ISIS BUKAN ISLAM, RADIKAL JUGA BUKAN ISLAM



Kunduran- Maraknya gerakan radikalisme yang berlindung atas nama agama akhir-akhir ini, justru menunjukkan bukan wajah agama Islam yang sebenarnya. Salah satunya gerakan ISIS (Islamic State in Iraq and al Sham) dan paham gerakan radikal lainnya, bukanlah gerakan Islam. Pasalnya, gerakan Islam merupakan implementasi bentuk kasih sayang bagi seluruh ‘alam.

 

HABIB MUSTHOFA AL IDRUS ISIS BUKAN ISLAM, RADIKAL JUGA BUKAN ISLAM

Peringatan Maulid Nabi 1440 H di PP Al Fattah Desa Sempu Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora.

 

“Jadi, ISIS bukan Islam, radikal juga bukan Islam. Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Islam penuh kasih sayang, bukan teror. Ini bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga mkhaluk hidup lain dan seluruh alam,” papar Habib Musthofa al Idrus saat menyampaikan mauidhoh hasanah di Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Al Fatah Dusun Ngronggah Desa Sempu Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora, Minggu (18/11) malam.

Dikisahkan Habib Musthofa, pada suatu ketika Nabi Muhammad tengah dalam perjalanan ke Thaif. Kala itu, Nabii Muhammad disuguhi adanya adegan, dimana seseorang tangah bersiap menyembelih kambing. Namun, setelah kambing dirobohkan, penyembelih baru mengasah pedang di depan kambing yang akan disembelih.

Kontan saja, kata Habib, Nabi Muhammad SAW menegur penyembelih dan mengingatkan agar tidak melakukan “teror” dan “intimidasi” terhadap kambing dengan cara mengasah di depan kambing tersebut.

“Coba bayangkan, Nabi Muhammad melarang hal itu (teror dan intimidasi meskipun ditujukan ke binatang, red). Apalagi terhadap manusia, pasti sangat dilarang. Jadi, yang melakukan teror selama ini bukanlah orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad,” terang Habib asal Tuban ini.

Selain itu, dikisahkan pula oleh Habib, tatkala Nabi Muhammad sambil bercucuran darah dari kejaran musuh, berembunyi di kebun buah anggur milik Saibah, seorang pemeluk agama paganis (penyembah berhala, red). Sehingga, pemilik kebun akhirnya menyuruh pekerjanya, Adas, seorang pemeluk Nasrani untuk memberikan pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW.

Atas perlakuan tersebut, Nabi pun mengajarkan dalam bermuasyarah, untuk lebih mengedepankan sisi kemanusiaan ketimbang agama dan keyakinan.

“Masak, kalau kita mau menolong seseorang harus kita tanya dulu agama dan keyakinannya. Kan tidak?! Kemanusiaan yang harus kita dahulukan,” ulasnya. (one)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.