LEBIH DEKAT DENGAN “TEATER AJI POJOK”



Blora – Banyak cara untuk mengekspresikan kepedulian terhadap realitas sosial. Salah satunya, dengan melakukan kritik di panggung drama. Komunitas Teater Aji Pojok Blora menjadi salah satu dari sedikit kelompok yang menyampaikan kritik sosial melalui seni peran.

Lurah merupakan sebutan bagi ketua komunitas ini. Saat ini, Lurah Teater Aji Pojok dipercayakan kepada Niam Jamil, mahasiswa jurusan Tarbiyah STAI Al Muhammad Cepu.

 

Para pemeran di Komunitas Teater Aji Pojok

 

“Komunitas ini berdiri sejak tahun 2012. Puluhan lakon telah kami tampilkan, baik dalam acara mahasiswa maupun kegiatan luar kampus. Kiprah Teater Aji Pojok, tak bisa dilepaskan dari perjalanan PMII Komisariat Sunan Pojok Blora,” ungkap Niam, Kamis (19/07).

Benar saja, Teater Aji Pojok didirikan oleh dua mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Blora, Irham Syahidin dan Abdul Wahid, yang saat itu menjabat sebagai pengurus Komisariat Sunan Pojok Blora.

Dari sekian banyak lakon yang telah dipentaskan Teater Aji Pojok, lakon Kakak Paradoks dan Bendera Setengah Tiang merupakan pementasan yang paling berkesan.

Menurut Niam, dua lakon tersebut telah ditampilkan dalam rangkaian Hari Lahir (Harlah) PMII Komisariat Sunan Pojok beberapa waktu yang lalu.

Selain itu, lakon ini juga dipentaskan di depan puluhan mahasiswa dari berbagai kota yang tergabung dalam Forum Komisariat Pantura Timur (FKPT). Sedianya, pada Agustus mendatang Teater Aji Pojok akan menggelar pementasan di Cepu.

“Jadwal latihan kami seminggu sekali. Untuk hari latihannya fleksibel, kadang Sabtu kadang Minggu. Para pemeran di teater ini, adalah mahasiswa semester II dan semester IV,” lanjutnya.

Mengingat tujuan Teater Aji Pojok adalah mengekspresikan diri dalam merespon fenomena sosial, mahasiswa semester IV ini menyarankan kepada pemula untuk memperhatikan berbagai realitas sosial yang ada.

 

Reporter : Abdul Ghofur

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.