PESANTREN DAN KEARIFAN LOKAL



Tunggu dulu, ngeliwet ini bagi masyarakat Jawa merupakan suatu cara mengolah atau memasak beras yang ternyata sudah tua. Sebab proses memasak liwet itu tertulis di Serat Centhini pada tahun 1819 sebagaimana yang dipaparkan oleh Murdijati Gardjito ahli gastronomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada salah satu media pemberitaan nasional.

Terlepas dari itu semua, perlu diketahui kebiasaan ngeliwet yang ada di pesantren menggunakan pola bersama atau berkelompok, bisa dengan anggota dua atau lebih.

Dalam menjalankannya, dibagilah tugas masing-masing anggota kelompok. Ada yang membersihkan beras, belanja, menyiapkan bumbu dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu ada pembagian yang siafatnya relatif bisa mingguan atau bulanan, yakni giliran menyediakan beras atau iuran untuk keperluan belanja bumbu.

Semuanya proses di atas, sarat akan makna yang tersirat. Tanpa disadari, kebiasaan ngeliwet membawa santri, entah pelakunya sadar atau tidak, dilatih beberapa hal. Mulai dari kebersamaan, kemandirian, melatih mengatur waktu hingga pada tataran manajemen keuangan.

Pada akhirnya, akan bermuara pada kemandirian, ketika mereka sudah betul-betul terjun ke masyarakat secara langsung.

Sebab, tanpa ia sadar pasti dalam kelompok ngeliwet terdapat beraneka ragam pola dan karakter santri. Ada yang suka gokil, suka perintah tanpa berkerja, dan yang sukanya hanya tinggal makan saja.

Semoga ini menjadi titik kembali, bahwa ngeliwet merupakan salah satu gambaran kearifan lokal dari pesantren, di tengah-tengah banyaknya keraifan lokal yang lain.

 

Ahmad Mundir, pemerhati tradisi pesantren, lulusan STAI Khozinatul Ulum Blora.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.