SEDEKAH BUMI DAN HARI PASARAN



Bulan ini yaitu Selo, Apit atau juga disebut Dzulqo’dah, masyarakat Blora dihadapkan dengan tradisi tahunan yang entah kapan dimulainya yaitu Gas Desa atau Sedekah Bumi. Semua desa bahkan dukuh menyelengggarakannya dan semakin tahun semakin terasa gemanya.

Fenomena gas desa atau sedekah bumi ini berbanding terbalik dengan tradisi-tradisi lain yang cenderung semakin surut bahkan hanya tinggal dalam ingatan sebagai tradisi masa lalu.

 

Kadang kala penentuan hari dalam Sedekah Bumi didasarkan pada kesesuaian huruf fokal atau konsonan nama desa setempat.

 

Masing-masing desa atau dukuh memiliki hari pasaran yang sudah disepakati secara turun-temurun dalam menentukan waktu pelaksanaan gas desa atau sedekah bumi. Misalnya : Desa Tutup (Setu Pahing), Sukorame (Senin Legi), Jasem (Jum’at Legi), Kedung Jenar (Kemis Legi) dan sebagainya.

Rasanya, seandainya ada yang mengubah hari pasaran sebagaimana biasanya, bisa dipastikan akan menimbulkan kegaduhan sosial di wilayah tersebut.

Pertanyaan yang muncul kemudian, dari mana sebuah desa atau dukuh memilih hari pasaran untuk pelaksanaan tradisi tahunannya tersebut?

Ternyata penentuan hari pasaran untuk pelaksanaan gas desa atau sedekah bumi itu ada rumusnya, yaitu berasal dari nama desa atau dukuh itu sendiri.

Hari pasaran dipilih berdasar kesesuaian huruf fokal atau konsonan atau gabungan fokal konsonan antara nama desa/dukuh dengan hari pasaran .

Sebagai contoh; Sedekah bumi Desa Tutup jatuh pada hari Setu Pahing. (T u t u p = S e t u  P a h i n g),  S u k o r a m e (S e n i n  L e g i),  J a s e m (J u  m ’a t  L e g i) dan K e d u n g  J e n a r  (K e m i s   L e g i).

Apakah rumus tersebut berlaku umum dan pasti? Rasanya tetap ada variasi dan pengecualian. Sebagai contoh; di Kelurahan Beran ada dua Ngampon yaitu Ngampon (thok) dan Ngampon Etan.

Sedekah bumi di Ngampon jatuh pada hari Setu Pon, sementara Ngampon Etan jatuh pada hari Ngaat Pon. Bagaimana menurut pembaca? Monggo dicocokkan lagi, sambil ngopi….

 

Penulis : Abahe Genduk

(Disarikan dari paparan Muridan HS, mantan Kepala SD Negeri 1 Tutup, Kecamatan Tunjungan)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.