fbpx
OPINI  

BANDARA ARYO JIPANG-NGLORAM DAN MULTIPLIER EFFECT-NYA

Djati Walujastono
Djati Walujastono

Pembangunan Bandara Aryo Jipang-Ngloram dari Tahun ke Tahun

Kegiatan tahun 2018 yang dilakukan di Bandara Aryo Jipang-Ngloram adalah pemagaran di lahan eksisting, seluas 21.535 Ha, dan pekerjaan studi penyusunan rencana induk (masterplan) Bandara Aryo Jipang-Ngloram.

Kemudian tahun 2019 adalah kegiatan Detail Engineering Desain (DED) dan Amdal, dan pekerjaan perpanjangan Runway 300 m x 30 m, rekonstruksi Runway 900 m x 30 m, Taxiway 150 m x 23 m termasuk Marking sehingga bisa didarati pesawat kecil misalnya CN-235, ATR 42, pesawat latih/training School dan pesawat Charter kecil.

Di tahun yang sama, dilakukan pembebasan lahan seluas 3.1 Ha yang dilakukan oleh Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan (DINRUMKIMHUB) Kab. Blora untuk Terminal Bandara dan Rest End of Safety Area (RESA).

Sedangkan tahun 2020 dengan memperpanjang Runway menjadi sekitar 1400 m untuk pesawat ATR 72-600 (pesawat Turbo Prop). Tak hanya itu, akan dilakukan pula pembebasan lahan sebesar 3.1 Ha yang akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kab. Blora, untuk akses jalan masuk Bandara Aryo Jipang-Ngloram.

Disamping juga ada pembangunan Gedung Terminal penumpang Bandara Udara Aryo Jipang-Ngloram. Sedangkan Hinterland Kabupaten sekitar adalah Bojonegoro, Tuban, Rembang , Grobogan, dan Ngawi (sebelum ada jalan Tol, tetapi setelah ada jalan Tol, maka Kabupaten Ngawi bukan termasuk Hinterland Bandara Aryo Jipang-Ngloram karena lebih dekat kearah Bandara Internasional Adi Simarmo, Surakarta).

 

Tentang Penulis: Djati Walujastono merupakan anggota Tim Reaktivasi Percepatan Pembangunan Bandara Aryo Jipang-Ngloram, Kecamatan Cepu Kabupaten Blora.