fbpx

BANGUN SPIRIT LITERASI, PMII BAMBU RUNCING GELAR BEDAH BUKU ‘BUMI MANUSIA’

  • Bagikan
Harlah ke – 11 dan pelantikan pengurus baru Pengurus komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bambu runcing blora

Blora – Harlah ke – 11 dan pelantikan pengurus baru Pengurus komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bambu runcing blora menggelar acara bedah buku ‘Bumi Manusia’. Menghadirkan adik dari penulis buku, Soesilo Toer guna membangun spirit berliterasi.

 

Harlah ke – 11 dan pelantikan pengurus baru Pengurus komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bambu runcing blora

 

Ketua panitia, Abdul Kholik memaparkan di era pandemi ini perlu mematuhi protokol kesehatan. Sebagai kader, begitu pentingnya membangkitkan revitalisasi nilai juang pmii dalam degradasi intelektualitas dan religiusitas.

“Kader PMII harus mampu berfikir kritis dan harus mampu berfikir jernih. Karena pmii adalah agen perubahan masyarakat nan agen kontrol sosial,” papar abdul di Gedung Serbaguna NU Blora, Sabtu (26/09).

Abdul melanjutkan, dari generasi ke generasi pasti ada persoalan yang signifikan, dinamika problem organisasi pasti ada, itu adalah sebagai sebuah bentuk proses untuk masa depan yang akan datang.

Narasumber bedah buku, Soesilo Toer menjelaskan banyak tentang kehidupannya dengan pram (sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer) sejak kecil hingga meninggalnya. Soesila juga mengoreksi beberapa karya kakaknya, tidak semua karya itu benar.

“Jadilah dirimu sendiri, kamu ini makhluk tunggal. kamu ini tidak ada duanya dan kamu harus hidup bebas. Tidak ada revolusi tanpa perempuan, revolusi harus berani,” jelasnya.

Diketahui sebelumnya dilaksanakan acara ramah tamah bedah sejarah berdirinya PMII Bambu Runcing (18/09/2009)  berbasis di STAI Khozinatul Ulum dengan mengundang 4 narasumber, Ahmad Mundir salah satunya.

Mundir menjelaskan, pendirian PMII Blora berada di bawah pengaruh dua basis, Jogja dan Semarang. Fokus pergerakan PMII Jogja lebih ke pemikiran dan wacana berfikir, sedangkan fokus pergerakan PMII Semarang cenderung ke akademis dan kebangsaan. Inilah yang kemudian menjadi warna tersendiri bagi PMII di Kabupaten Blora.

“kader-kader pmii itu berkembang dan selalu melakukan pembenaran dengan menilik kondisi dan situasi. Jika dulu bergerak turun ke jalan, kini cukup dengan jari kita mampu melakukan perubahan,” pungkasnya. (Jyk)

  • Bagikan