fbpx

BELAJAR AKSARA JAWA DAN UNGGAH UNGGUH DI KEMAH LITERASI

  • Bagikan
Kemah Literasi di Taman Baca dan Budaya Cethik Geni, Desa Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora
Kemah Literasi di Taman Baca dan Budaya Cethik Geni, Desa Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora

Cepu- Mengajarkan aksara jawa dan etika (unggah-ungguh, jw) kepada anak kecil bukanlah hal yang mudah. Namun, akan berbeda jika hal ini dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tanpa mengguruhi anak.

Hal ini terbukti saat puluhan anak-anak usia SD di wilayah Kecamatan Cepu dan sekitarnya mengikuti Kemah Literasi di Taman Baca dan Budaya Cethik Geni dalam dua hari terakhir, Sabtu-Minggu (21-22/12).

 

Kemah Literasi di Taman Baca dan Budaya Cethik Geni, Desa Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora
Kemah Literasi di Taman Baca dan Budaya Cethik Geni, Desa Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora

 

Dalam acara ini, pengenalan aksara jawa disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Yakni, mengajak anak-anak untuk praktek langsung dengan menuliskan aksara tersebut dan melafalkannya secara bersama-sama. Di sela-sela itu, diselingi candaan dan motivasi berbahasa jawa.

Sedangkan pengenalan Unggah Ungguh, disampaikan oleh budayawan yang juga wartawan senior Panjebar Semangat, JFX Hoery. Dalam kesempatan itu, anak-anak diajarkan bagaimana bersikap dengan yang lebih tua, dengan teman sebaya, dan yang lebih muda.

Pengenalan budaya jawa tak selesai di sini. Saat jam istirahat dan bersantai, diputarkan tembang dolanan yang belakangan makin jarang terdengar. Diantaranya, Suwe Ora Jamu, Gundul Gundul Pacul, dan Padang Wulan.

“Peserta Kemah Literasi ini dari anak-anak bermacam usia. Yang paling kecil, berusia lima tahun, dan paling besar usianya 12 tahun. Kita buat secara berkelompok, sehingga tak hanya belajar budaya saja tapi juga berlatih kepemimpinan,” ucap pengurus Cethik Geni, Rita Oktaviana.

Berlatih kepemimpinan yang dimaksud Rita adalah meningkatkan kepercayaan diri anak, menanamkan rasa empati kepada sesamanya, dan berlatih memecahkan permasalahan sederhana dalam sesi permainan (game).

“Di sini, anak-anak tidak disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak mereka senangi. Kita bebaskan mereka berkreasi sesuai dengan passion-nya (minat). Untuk kesempatan ini, kita memang menitikberatkan pada budaya jawa, tapi kreasi anak juga kita apreasiasi,” imbuhnya.

Benar saja, dalam pentas seni, anak-anak menampilkan kebisaan mereka. Ada yang menampilkan Tari Gambyong, permainan Ukulele, dan Tarian Sufi. Selama acara berlangsung, orang tua anak menyaksikan penampilan buah hati mereka. (jyk)

  • Bagikan