fbpx

BLORA PERINGKAT 13 PERNIKAHAN ANAK, KECAMATAN JATI TERBANYAK

Kabupaten Blora menduduki peringkat ke 13 kasus pernikahan anak. Dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Tingginya angka pernikahan di bawah umur terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Jati.
Talkshow “Menyongsong Masa Depan Unggul; Stop Pernikahan Anak”

BLORA, BLORANEWS – Kabupaten Blora menduduki peringkat ke 13 kasus pernikahan anak. Dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Tingginya angka pernikahan di bawah umur terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Jati.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora, Ainia Sholichah dalam acara Talkshow “Menyongsong Masa Depan Unggul; Stop Pernikahan Anak” diselenggarakan oleh Kohati BADKO HMI Jawa Tengah-DiY di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Senin (16/5) siang.

BACA JUGA :  KETUA TP PKK KABUPATEN BLORA HIMBAU REMAJA TAK BURU-BURU MENIKAH

“Kita identifikasi datanya, yang paling banyak adalah Kecamatan Jati, ada 64 perempuan dan 54 laki-laki dibawah umur 19 tahun telah menikah. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ungkapnya dalam menyampaikan materi.

Kepala Dinas P3AP2KB Jawa Tengah Retno Sudewi juga memaparkan, pihaknya menyoroti Blora sebagai peringkat ke 13 dari 35 Kabupaten Kota se Jateng yang pernikahan anaknya banyak. Posisi pertama Cilacap. Ia mengajak para peserta talkshow untuk bersinergi bersama-sama mencegah pernikahan di bawah umur.

BACA JUGA :  WUJUDKAN KELUARGA SAMAWA, KEMENAG BLORA GELAR BIMBINGAN PRA NIKAH KE 7

“Saya kagum dengan Blora karena strategi daerah dalam penanganan pernikahan anaknya sudah sesuai strada jateng dan stranas yang diinginkan Pak Presiden. Tinggal bagaimana kita action bersama di lapangan,” ajaknya.

Data Kantor Kemenag Blora, pernikahan anak selama tahun 2021 sebanyak 640 kasus, dengan rincian 100 Laki-laki dan perempuan 540 kasus. Sementara berdasarkan data yang ada di Pemprov Jateng, angka pernikahan anak di Kabupaten Blora untuk periode 2021 sebanyak 448 kasus.

BACA JUGA :  HINGGA JULI 140 ORANG AJUKAN REKOMENDASI PSIKOLOGI NIKAH

“Biasanya pernikahan anak ini disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga, kemudian lingkungan sosial utamanya di pedesaan, kualitas pendidikan orang tua, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi, hingga pola pengasuhan yang primitive. Yang bahaya karena MBA atau hamil sebelum nikah. Jika ini dibiarkan, dampaknya bisa berbahaya,” tegas Wabup Tri Yuli Setyowati saat membuka acara. (Ads).