BPSMP SANGIRAN AJAK AKTIVIS SELAMATKAN LEBIH BANYAK FOSIL DI BLORA

Blora- Dukungan untuk melestarikan berbagai peninggalan kuno di Blora terus mengalir. Dukungan tersebut tak hanya berasal dari masyarakat lokal, tetapi juga dari lembaga pemerintah seperti Badan Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

 

Kepala BPSMP Sangiran M. Hidayat (batik coklat) menyerahkan apresiasi kepada Ketua FPSB Blora, Lukman Wijayanto

Kepala BPSMP Sangiran M. Hidayat (batik coklat) menyerahkan apresiasi kepada Ketua FPSB Blora, Lukman Wijayanto

 

Wujud dukungan tersebut dengan memberikan apresiasi kepada para tokoh pemerhati fosil di Blora berupa piagam penghargaan. Dukungan terus dikuatkan dengan memberikan kompensasi kepada komunitas ini berupa uang tunai senilai Rp 10 juta.

Penyerahan kompensasi tersebut berlangsung di aula lantai 2 Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora, dari Kepala BPSMP Sangiran kepada Ketua Forum Peduli Sejarah dan Budaya (FPSB) Blora, Lukman Wijayanto, Jumat (29/11).

Selanjutnya, kompensasi sebesar Rp 10 juta tersebut langsung disitribusikan ke pengurus Forum Peduli Sejarah dan Budaya (FPSB) Blora tingkat kecamatan, supaya dapat dimanfaatkan secara langsung oleh mereka.

“Meski nilainya tak seberapa, ini merupakan bentuk kepedulian kita untuk pelestarian fosil di Blora. Semoga ke depan lebih banyak lagi peninggalan-peninggalan fosil di Blora yang dapat kita selamatkan,” kata Kepala BPSMP Sangiran, M Hidayat.

Diketahui bersama, geliat pelestarian fosil di Blora menguat dalam beberapa bulan terakhir. Berbagai temuan fosil yang ada, kini disimpan di Rumah Artefak Blora. Tak hanya fosil, berbagai koleksi kuno seperti alat batu manusia purba juga ada di tempat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman yang juga merupakan salah satu pengurus Rumah Artefak Blora menilai, dukungan berbagai pihak dibutuhkan untuk mewujudkan gagasan yang lebih besar, yakni mendirikan Museum Blora.

“Ini harapan kita semua, dari Rumah Artefak menjadi Museum Blora. Ini butuh kerja lebih keras dan dukungan dari berbagai pihak,” harapnya.

Sebagai informasi, pendirian Rumah Artefak Blora berawal dari gagasan Kepala Dinporabudpar Kabupaten Blora, Slamet Pamudji, agar memiliki tempat penyimpanan dan perawatan benda Cagar Budaya milik Pemkab Blora.

Maka, sejak Juli 2019 mulai dilaksanakan penyiapan fasilitas penyimpanan artefak yang seluruhnya berasal dari Blora.Di rumah artefak ini, tersimpan sekitar 200 benda cagar budaya dari empat peradaban.

Benda-benda yang tersimpan di sini berasal dari masa prasejarah, masa klasik Hindu-Budha, masa kerajaan Islam, hingga masa kolonial. Setiap hari, benda cagar budaya di Rumah Artefak dirawat dan dijaga petugas Dinporabudpar.

Meski masih dalam tahap rintisan, keberadaan Rumah Artefak telah mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Mulai akademisi hingga anak-anak sekolah. Tak jarang, para pelajar  datang untuk melihat langsung kegiatan konservasi benda cagar budaya. (kdn)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan