fbpx

CEGAH PERGERAKAN PAHAM RADIKAL, CALON WISUDAWAN AMC DIBEKALI WAWASAN KEBANGSAAN

  • Bagikan
Deklarasi Bela NKRI dan Pendadaran calon wisudawan STAI Al Muhammad Cepu, Jumat (22/09).

Cepu – Kampus pesantren kerap menjadi lahan  potensial bagi berkembangnya paham radikal di tanah air. Ancaman ini mendorong Civitas Akademika STAI Al Muhammad dan pengambil kebijakan di Cepu membekali calon wisudawan wawasan kebangsaan. Salah satu caranya, dengan menggelar Deklarasi Bela NKRI di Aula kampus pesantren tersebut, Jumat (22/09).

 

Deklarasi Bela NKRI dan Pendadaran calon wisudawan STAI Al Muhammad Cepu, Jumat (22/09).

 

Kegiatan yang melibatkan seluruh calon wisudawan dari jurusan Syariah, Tarbiyah dan Ekonomi ini menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten di bidangnya, antara lain Danramil Cepu dan Intelektual NU.

Agenda Deklarasi Bela NKRI ini dibuka oleh Ketua STAI Al Muhammad Cepu, dilanjutkan dengan pemaparan situasi terkini terkait pergerakan paham radikal di tanah air oleh Danramil Cepu.

“Secara umum, pergerakan paham radikal terdiri atas tiga jenis, yaitu radikal kanan, radikal kiri dan OTB. Radikal kanan menggunakan simbol-simbol agama untuk melegitimasi tindakan yang intoleran, radikal kiri memakai isu-isu sosial / komunis yang berujung para propaganda massa sedangkan OTB / Organisasi Tanpa Bentuk menyusup ke wilayah-wilayah intelektual,” papar Kapten Inf Ribut Agiyono, Danramil Cepu. Ia juga meambahkan, gerakan radikal kanan sangat berpotensi berkembang di kampus pesantren dengan memanfaatkan spirit keagamaan yang kental.

Ibnu Khakim, intelektual Nahdlatul Ulama dalam kesempatan itu menyampaikan materi NU, Penyangga Aswaja dan NKRI. Dalam penyampaiannya ia menekankan pentingnya pemahaman keagamaan yang moderat ditengah situasi bangsa saat ini.

“Beruntunglah kita, warga negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Dan beruntunglah umat Islam Indonesia karena sebagian besar tergabung secara kultural di NU. NU dengan pemahaman moderat dan toleran yang dianutnya menunjukkan wajah ramah umat Islam Indonesia,” jelas Ibnu Khakim di hadapan ratusan calon wisudawan STAI Al Muhammad itu.

Umi  Zulfa dan Laila Septiana, dua calon wisudawan STAI Al Muhammad Jurusan Tarbiyah mengaku baru tau adanya pembagian gerakan radikal menjadi tiga jenis seperti yang dipaparkan Danramil Cepu itu.

“Ngeri juga kalau kampus kita ada gerakan-gerakan seperti itu. Alhamdulillahnya gak ada. Setidaknya, paparan tadi menjadi bekal calon mahasiswa ketika nanti kembali ke masyarakat. Mereka akan secara langsung berinteraksi dengan banyak gagasan, beberapa diantaranya mungkin paham-paham radikal,” ujar Umi Zulfa

Kadarismanto, Ketua STAI Al Muhammad Cepu menekankan agenda ini merupakan bentuk peneguhan empat pilar kebangsaan di STAI Al Muhammad Cepu. Ia berharap, alumni dan mahasiswa STAI Al Muhammad Cepu dapat menjadi benteng NKRI dari paham radikal dan intoleran.

Reporter : Alifin Candra K

  • Bagikan