Blora, BLORANEWS.COM – Siapa sangka, dari dusun kecil di pinggir hutan, lahir sosok peternak muda yang kini jadi penyumbang pajak daerah.
Dialah drh. Supendi, dokter hewan lulusan Universitas Airlangga tahun 2017, asal Dukuhan Kaliwader, Desa Ngliron, Kecamatan Randublatung, Blora.
Kini, Supendi mengelola kandang ayam potong berkapasitas 18.000 ekor di Dukuhan Timbun, Desa Kadengan, wilayah yang masih berada di kecamatan yang sama.
Kisah usahanya dimulai tiga tahun lalu dengan jumlah ayam yang masih terbatas.
“Populasi ternak yang saya rintis sekitar tiga tahun lalu tidak langsung berjumlah 18.000 ekor, tetapi mulai dari sedikit. Sekitar 3.000 hingga 5.000 ekor,” ujarnya saat ditemui seniornya, drh. Gundala Wijasena.
drh. Gundala Wijasena yang juga mantan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DP4) Kabupaten Blora yang sempat berbincang dengan Supendi mengungkapkan bahwa usaha tersebut dijalankan melalui sistem kemitraan ayam potong, di mana perusahaan inti memberikan fasilitas dan pendampingan teknis.

“Saya sempat berbincang-bincang mengenai peternakan broiler atau ayam potong dengan Supendi. Ia mengikuti kemitraan, hanya saja ia tidak mau menyampaikan siapa mitranya. Yang jelas dengan mengikuti kemitraan ada beberapa keuntungan yang bisa ia dapatkan,” jelas Gundala, Kamis (6/11/2025).
Sistem kemitraan, lanjut Supendi, memang sangat membantu peternak pemula karena tidak harus memulai dari nol.
“Pertama, akses modal yang mudah: peternak pemula dapat memulai usaha ayam potong ini dengan modal awal yang terjangkau yaitu penyiapan kandang, anak buah kandang, biaya operasional. Adapun obat-obatan disediakan oleh perusahaan inti dan pembayarannya dilakukan setelah panen,” terangnya.
Selain kemudahan modal, sistem ini juga memberi jaminan harga jual sebelum masa kontrak dimulai, sehingga peternak tidak rugi saat harga ayam di pasaran turun.
“Ketiga, pembagian risiko: risiko finansial dan operasional didistribusikan antara peternak dan mitra, melindungi peternak dari potensi kerugian yang signifikan saat menghadapi kondisi sulit,” lanjutnya.
Dengan begitu, peternak bisa lebih fokus pada proses budidaya karena segala kebutuhan, mulai bibit hingga obat, sudah disediakan oleh perusahaan inti.
Meski demikian, Supendi menegaskan bahwa keberhasilan sangat bergantung pada kedisiplinan dan manajemen kandang.
“Ayam bisa cepat besar dan kematian rendah. Maka ketika terjadi ada beberapa ayam kerdil harus segera ditindaklanjuti supaya tidak boros di dalam pakan. Ayam diambil atau istilahnya culling dan dimusnahkan. Bisa juga ayam-ayam yang kerdil itu diletakkan di kandang khusus dan dilakukan pemeliharaan secara khusus dengan penambahan vitamin dan lain-lain,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, hasil panen dihitung berdasarkan berat total ayam dikalikan nilai kontrak. Bila hasil melebihi ongkos produksi, barulah peternak mendapat keuntungan.
“Kalau tidak memang bisa terjadi minus. Maka di sini peran peternak betul-betul diuji, bila dilakukan dengan baik hasilnya bisa melimpah,” tuturnya.
Supendi mengakui, setiap usaha memiliki risiko. Karena itu, pengelolaan yang cermat dan efisien menjadi kunci agar pendapatan tetap stabil.
Ia pun membagikan sejumlah syarat bagi yang ingin bergabung dalam kemitraan ayam potong.
“Memiliki kandang close house yang memenuhi standar. Populasi ayam minimal 3.000 sampai 5.000 ekor, ini supaya penghasilannya minimum sama dengan UMR. Kemudian, lokasi dekat dengan jalan yang memadai menuju kandang. Lokasi kandang di area kemitraan. Menyediakan berkas rencana hasil produksi pangan tiga periode berturut-turut. Memiliki jaminan berupa sertifikat tanah,” terangnya.
“Tentu saja tidak kalah pentingnya adalah KTP dan NPWP,” kata Supendi menegaskan.
Kini, dari usaha yang dulu dimulai kecil di tepian hutan, Supendi tak hanya berhasil menambah penghasilan keluarga, tetapi juga menjadi pembayar pajak aktif (PPH), bukti bahwa usaha kecil pun bisa memberi manfaat bagi daerah. (Jyk)






