DI RUMAH SAJA KITA BEKERJA

Wabah virus corona meradang dan menakuti kotaku. Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang apa itu Covid-19. Hanya saja air sabun cuci tangan menyebar tiap teras.

Beberapa pelosok desa mungkin mengikuti. Kerumunan dibubarkan. Konser dibatalkan. Salat Jum’at di masjid tertiadakan. Mulut-mulut dibungkam masker. Ruang disemprot disinfektan. Warung dibatasi, manusia saling jaga jarak. Tolak tamu asing. Miris, tidak boleh keluar rumah kecuali hal tertentu.

 

Mawar Sastrajawa

Mawar Sastrajawa

 

Semua hal tersebut tidak ada pengaruhnya bagi kami, selaku seniman. Sekalipun di rumah saja, aku masih bisa berkarya, berimajiner, eksplorasi seni. Meski tak bisa berkarya di jalanan dan dengan masa banyak. Hubungan kawan-kawan masih tetap terjaga. Jangan takut corona dan jangan hanya menakut-nakuti. Perlu edukasi bagaimana sikap masyarakat. Mana tahu masyarakat mati bukan karena corona, tapi karena ketakutan yang menghantui.

Silahkan apapun dibatasi, tapi satu, ruang imajinerku tak terbatas apapun. Pujangga masih bermain dengan kata, musisi tetap bernada dan lirik,  pelukis selalu pegang kuasnya, penulis masih bercerita, dan pekarya lainya.

Kita kembali pada zaman dulu. Ketika orang tua setelah dan akan apapun selalu menyuruh untuk cuci tangan. Salat Jum’at diganti dzuhur di rumah. Para pemerintah juga pemuka agama telah membahas, aku hanya kaum bawah yang tak menau tinggal mengikuti dari orang-orang pandai. Sekalipun ada yang melakukan Salat Jum’at di masjid tertentu. 

Peserta didik belajar di rumah kurang maksimal, kurang pantauan dari pendidik. Kesempatan bebas di rumah potensi besar, banyak menghabiskan hari di warung kopi, orang tua kesulitan mengawasi, disuruh belajar di rumah tetapi daya penangkapan ilmu tak maksimal. Guru mungkin kecapekan mengurus murid begitu banyaknya. 

Berkaryalah, corona tidak perlu ditakuti berlebihan. Semakin takut makin menjadi-jadi. Berdoa semoga corona cepat pulang, semangat para petugas jalanan, terimakasih , corona musuh bersama, dan tetap berkarya.

Tentang penulis: Mawar Sastrajawa merupakan nama pena Achmad Niam Jamil, yang adalah mahasiswa Tarbiyah STAI Al Muhammad tapi meminati seni lukis

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan