FESTIVAL CERITA DARI BLORA GAGAL TAMPILKAN PRAMOEDYA SEBAGAI IKON UTAMA

“Beberapa panitia, termasuk moderator, tampak tidak menguasai tema Pramoedya dan relasi gagasan Pramoedya dengan Blora,” ujar sastrawan kelahiran Pemalang tahun 1977 ini.

Dwi Cipta juga menyayangkan panitia yang tidak maksimal dalam menyelenggarakan festival ini. Gagasan Pram tentang rakyat kecil, hampir tidak disinggung di acara yang berlangsung selama empat hari tersebut.

“Dengan anggaran sebesar itu, panitia harusnya bisa memaksimalkan acara agar lebih tepat sasaran. Banyak dari karya Pram yang berbicara tentang kehidupan petani, tapi di mata acara itu juga tidak muncul,” sesalnya.

Padahal, menurut Dwi Cipta, dewasa ini persoalan dari dunia pertanian sedang meletus di berbagai wilayah di Indonesia.

Sastrawan ini juga menyayangkan gagalnya Pemkab Blora dalam berkomunikasi dengan Pataba yang merupakan representasi Pramoedya.

“Komunikasi antara Pemda (Pemkab Blora) dengan Pataba selaku tuan rumah yang menjadi representasi Pramoedya dengan sepertinya tidak berjalan dengan baik. Ini membuat acara menjadi kurang maksimal,” pungkasnya.

 

Reporter : Saiful Huda

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.