FUNGSI MEDIA SEBAGAI PENYAMPAI INFORMASI SEKALIGUS EDUKASI

Saat ini masyarakat dihantui oleh kekhawatiran yang disebabkan oleh gemparnya media yang memberitakan tentang bahaya Covid-19. Berjalan empat bulan virus ini memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan kita. Misalnya saja penurunan pada sektor ekonomi, kriminalitas yang semakin tinggi dan jumlah pasien yang terus bertambah. Berita ini menjadi makanan kita sehari-hari, yang tanpa disadari memberi efek negatif pada tubuh jika kita tidak menyaring informasi ada.

 

Indah Mulya Puspita Sari

Indah Mulya Puspita Sari

 

Sebagai kiblat dari informasi yang diandalkan, media massa menjadi alat informasi yang membentuk pola pikir dan mempengaruhi perilaku masyarakat. Media adalah katalis yang memungkinkan percepatan informasi tanpa ada sekat waktu dan perubahan makna pesan didalamnya. Namun, yang terjadi  saat ini adalah kurangnya edukasi serta informasi yang tepat oleh media. Informasi detail tentang Covid-19 seperti masa inkubasi, proses penyebaran dan masa hidup virus yang menempel pada benda yang seharusnya diketahui oleh masyarakat agar tidak terjadi keresahan. 

Perlu adanya berita yang objektif dan berimbang, sehingga tidak menimbulkan kesan subjektif dan berpihak untuk mencerminkan kebenaran. Reaksi yang diberikan oleh masyarakat sangat beragam, mulai dari panic buying, penimbunan masker, hand sanitizer, dan alat kesehatan lain yang dapat melindungi dirinya dari virus. Bahkan stigma negatif yang terus meneror membuat masyarakat semakin tertekan yang berdampak pada pasien dan jenazah Covid-19. Banyak dari mereka yang berstatus positif Covid-19, namun tidak segera melapor dan menolak untuk dibawa ke rumah sakit rujukan.

Perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan media untuk memberikan informasi yang dapat mengedukasi masyarakat. Peran media sebagai katalis yang harusnya gencar dalam memberitakan informasi yang beredukasi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Bersikap bijak dan patuh akan protokol yang ada membuat masyarakat siap dengan keadaan yang disebut New Normal. 

Transisi New Normal dibeberapa kota seperti di Malang membuat masyarakat berhamburan keluar rumah tanpa mentaati protokol yang ada. Dilansir dari merdeka.com, ditemukan enam orang reaktif saat dilakukan rapid test di kafe. Belum siapnya masyarakat menghadapi New Normal dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kesadaran diri dan minimnya edukasi. Efek karantina membuat seseorang ingin merasa bebas lagi, maka wajar jika transisi new normal dilaksanakan justru banyak orang yang terpapar.

Masyarakat seharusnya bisa menangkap dengan jeli momentum ini sebagai ajang melakukan perubahan pola hidup yang lebih sehat. Jika diurai dalam perspektif yang berbeda, akan melahirkan kehidupan yang bersih dan teratur. Misalnya cuci tangan setelah menyentuh benda, terlepas dari Covid-19 hal ini membuat kebiasaan baru yang lebih bersih dan berpengaruh pada kesehatan. Menjaga jarak satu meter, jika hal ini dilakukan akan menjadikan pola yang teratur dimana bisa diterapkan di Indonesia. 

Pandemi ini juga mengharuskan kita untuk work from home dan tidak keluar rumah. Lalu bagimana memperoleh pendapatan? Masyarakat seolah dituntut berpikir kreatif dan produktif akan hal ini. Dampak lain dari lingkungan adalah penurunan polusi udara dibeberapa kota didunia. Pemberitaan yang inspiratif dan positif seperti ini bisa mempengaruhi pola berpikir masyarakat untuk menghadapi masa pandemi dengan lebih bijak. 

 

Tentang penulis : Indah Mulya Puspita Sari Adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Univ. Muhammadiyah Malang/UMM

Alamat: Jl. Majapahit No. 3/35, Kec. Tuban, Kab. Tuban (62315)

 

Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan