HAMPIR SEPERTIGA BALITA DI KABUPATEN BLORA MENGALAMI STUNTING

Stunting dan Kemiskinan

Menurut Badan Pusat Statistik, Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Sedangkan Penduduk Miskin diartikan sebagai penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah Garis Kemiskinan.

Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari.

Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

Menurut definisi di atas, penduduk miskin adalah penduduk yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk kebutuhan makanan. Jika dikaitkan dengan pengertian stunting yaitu kondisi kurangnya asupan gizi dalam makanan, dapat disimpulkan bahwa stunting rentan terjadi pada penduduk miskin.

Hal ini didukung dengan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa tahun 2018, angka kemiskinan di Kabupaten Blora juga masih termasuk tinggi dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah.

Persentase penduduk miskin Kabupaten Blora padaMaret 2018 adalah 11,90 %. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan presentase penduduk miskin Provinsi Jawa Tengah yaitu  11,32 % dan nasional yaitu 9,82 %.

Jika diurutkan berdasarkan persentase penduduk miskin yang paling kecil, Kabupaten Blora menduduki urutan ke 23 dari 35 Kabupaten. Melihat hal ini, sebaiknya ada penanganan khusus untuk penduduk miskin yang mempunyai balita agar tidak mengalami stunting.

Selain bisa disebabkan oleh Kemiskinan, stunting juga dapat memperparah kemiskinan. Dalam laporan World Bank Investing in Early Years Brief tahun 2016, menyebutkan bahwa stunting dapat mengurangi 10 % dari total pendapatan seumur hidup dan dapat menyebabkan kemiskinan antar generasi.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.