fbpx

HARI BUKU NASIONAL, FOUNDER PERPUSJAL: DAERAH PELOSOK KEKURANGAN FASILITAS LITERASI

"Harapannya semoga pemerintah lebih memperhatikan lagi daerah pelosok yang masih minim tingkat literasinya akibat kurangnya fasilitas yang memadai," tegas founder Perpusjal Dope yang kini beroperasi di Desa Doplang, Kecamatan Jati.
Founder Perpustakaan Jalanan Dope, Nanang Ap Prastyo.

Blora, BLORANEWS – Tanggal 17 Mei merupakan peringatan Hari Buku Nasional. Dan tepat hari ini, 20 tahun sudah masyarakat Indonesia merayakan momen tersebut.

Namun, perayaan yang telah berjalan selama 20 tahun ini tak ubahnya sebatas formalitas lantaran tingkat literasi di Indonesia tak kunjung membaik.

Kondisi tersebut tentu juga menjadi representasi rendahnya tingkat literasi di seluruh daerah di Indonesia, tak terkecuali di Blora.

BACA JUGA :  BAZAR BUKU DI BLORA SEPI PENGUNJUNG

Menanggapi hal itu, Founder Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Dope, Nanang Ap Prastyo mengemukakan, momen Hari Buku Nasional harus dijadikan lecutan untuk memperbaiki rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Terutama di Kabupaten Blora.

“Cara ideal merayakan Hari Buku Nasional adalah dengan membaca buku itu sendiri. Minimal di hari buku ini kita menyelesaikan 1 buku,” terangnya, Selasa (17/5).

BACA JUGA :  BERAWAL DARI LITERASI YANG RENDAH, BERIKUT SEJARAH SINGKAT HARI BUKU NASIONAL

Ia juga meminta agar pihak pemerintah lebih peduli lagi dengan rendahnya tingkat literasi di Kabupaten Blora. Terutama daerah pelosok yang kekurangan fasilitas penunjang.

“Harapannya semoga pemerintah lebih memperhatikan lagi daerah pelosok yang masih minim tingkat literasinya akibat kurangnya fasilitas yang memadai,” tegas founder Perpusjal Dope yang kini beroperasi di Desa Doplang, Kecamatan Jati. (Kin)

BACA JUGA :  DORONG MINAT BACA SISWA, SD SASMITA EDUKASI GELAR KUNJUNGAN KE PERPUSTAKAAN DAERAH