fbpx

HET TAK BERLAKU DI MASYARAKAT, MINYAK GORENG SUBSIDI DIJUAL NON SUBSIDI

Harga minyak goreng baik kemasan maupun curah semakin menggila harganya. Banyak pedagang memanfaatkan minyak goreng curah dijual dengan harga subsidi karena lebih menjanjikan keuntungannya.
Ibu-ibu sedang antri membeli minyak goreng di minimarket.

Blora – Harga minyak goreng baik kemasan maupun curah semakin menggila harganya. Banyak pedagang memanfaatkan minyak goreng curah dijual dengan harga non subsidi karena lebih menjanjikan keuntungannya.

Pemburu minyak goreng curah menggerutu minyak goreng langka, padahal hanya persoalan antriannya yang panjang. Hatinya senang karena keuntungan lebih besar dibanding dengan minyak kemasan.

Hal demikian disampaikan oleh salah seorang pedagang sembako di Pasar Sido Makmur Blora, Siti. Baginya memang minyak kemasan keuntungannya banyak, termasuk yang subsidi kulakan Rp14 ribu, dijual Rp20 ribu.

“Kalau per liter itu untungnnya minimal enam ribu rupiah. Kalau di Moro Dadi (MD) belinya Rp13 ribuan minyak curah, tapi dijual Rp22 ribu. Keuntungan hampir sepuluh ribu mas. Rp8.500. Misal dikalikan sepuluh, Rp85 ribu. Sekwintal, RP850 ribu,” ucapnya, Selasa (29/3).

BACA JUGA :  HARGA MINYAK GORENG DI BLORA MASIH TINGGI

Artinya Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak berlaku di masyarakat. Tidak ada surat perjanjian harus menjual sesuai HET. Toko yang memiliki surat perjanjian pasti menjual sesuai harga ketentuan.

“Yang saya tahu toko yang ada surat perjanjiannnya harus menjual sesuai HET, seliter Rp14 ribu, dan Rp28 ribu untuk dua liter. Itu toko yang dibuat perjanjian, yang tidak ya tidak. Kita beli di toko Rp14 ribu kita jual Rp20 ribu. Untung banyak,” jelasnya.

Menurut Siti, adanya tidaknya minyak subsidi tidak ada pengaruhnya. Dia mengaku hanya sekali mendapat minyak subsidi. Di hari-hari biasa ia membeli minyak 10-30 kardus. Karena kini langka, tidak pernah mendapatkan dan tidak pernah dikasih saat kulakan.

BACA JUGA :  RAGAM HARGA MINYAK DI KABUPATEN BLORA

“Kalau menanti subsidi ya tidak pernah jualan, mas. Pedagang tidak ambil pusing, kalau harga tinggi ya dijual tinggi, kalau murah ya dijual murah. Murah dan mahal tetap bati (untung). Rezeki sudah ada yang ngatur, jangan dipikir terlalu dalam,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala TU UPTD Wilayah 1 Dindagkop, Tasminto belum mengetahui adanya temuan pedagang yang menjual minyak goreng di luar ketentuan. Pihaknya mengaku akan berkomunikasi dengan bidang perdagangan untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

BACA JUGA :  PUNYA KARTU VAKSIN BISA BELI MINYAK

“Belum tahu mas. Untuk pantauan harga ada di bidang perdagangan. Nanti akan saya koordinasikan dengan bidang perdagangan untuk mendapat keterangan,” ungkapnya, Selasa (29/3).

Sebagai informasi, minyak goreng di salah satu toko kelontong yang berada di jalan arah Blora-Randublatung tepatnya di Kelurahan Mlangsen, Kecamatan/Kabupaten Blora terlihat tersedia di rak.

Terpantau harga minyak di toko klontong tersebut Rp25 ribu sedangkan minyak curah bintang seharga Rp27 ribu per liter. Sedangkan harga minyak goreng kemasan di salah satu minimarket yang ada di wilayah Blora Kota yaitu Rp48 ribu per dua liter. (Jam).