IMLEK DI KELENTENG HOK TIK BIO AKAN BERLANGSUNG SEDERHANA

Blora- Perayaan tahun baru Imlek di Blora akan berlangsung secara sederhana. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara akan dimaksimalkan untuk pelaksanaan sembahyang dan sejumlah agenda internal saja.

“Di Blora ini, kita bikin acara yang sederhana. Walau nanti ada acara penampilan seni Barongsai, atau Liong, itu pun akan dilaksanakan secara sederhana. Monggo, nanti siapa yang mau hadir kami persilakan,” jelas Sekretaris Yayasan TITD Kelenteng Hok Tik Bio, Bambang Suharto, Sabtu (02/02).

 

Sekretaris Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), Bambang Suharto di Kelenteng Hok Tik Bio Blora

Sekretaris Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), Bambang Suharto di Kelenteng Hok Tik Bio Blora

 

Menurut Bambang, substansi Imlek adalah mengawali tahun baru dengan berbagai rangkaian acara ritual diantaranya sembahyang leluhur yang dilaksanakan sehari sebelum tahun baru imlek sebagai wujud berbakti kepada leluhur, bersyukur atas segala berkah selama tahun yang telah berlalu.

Mereka, warga etnis Tionghoa yang sibuk bekerja akan kembali mengingat jasa orang tua terdahulu. Bakti terhadap para suci di tempat ibadah diwujudkan dengan membersihkan meja abu dan menghiasnya.

“Seperti halnya lebaran, mereka yang muda mendatangi yang lebih tua. Konsepnya senioritas, yang lebih tua dihormati,” imbuhnya.

Pernak-pernik Imlek: Membakar Uang Kertas

Sore tadi, sejumlah persiapan jelang peringatan menyambut tahun Babi Tanah, yang bertepatan dengan tahun 2570 dalam kalender Tionghoa terus dilakukan. Mulai dari membersihkan patung-patung para suci, hingga menyusun uang kertas untuk dibakar pada malam menjelang Tahun Baru Imlek.

Tentu saja, uang kertas di sini bukanlah uang kertas yang biasa digunakan untuk bertransaksi. Uang-uangan kertas emas yang disebut Kiemcoa atau Toakiem

“Kiemcoa dibakar di tempat pembakaran, namanya Kimlo. Ini merupakan tradisi persembahan untuk leluhur maupun para suci,” jelas Bambang.

Banyak lagi kegiatan persiapan jelang Imlek yang berlangsung di Kelenteng Hok Tik Bio. Termasuk, menyiapkan lampion yang akan dipasang membentang di antara pilar-pilar kelenteng yang berdiri kokoh.

“Lampion menyimbolkan terang. Terang bermakna harapan ditahun mendatang menjadi terang, bahagia. Tidak hanya lampion yang ada di depan, kita juga merawat lampion di dalam ruang sembahyang yang terus menyala selama setahun penuh,” paparnya.

Penghormatan Untuk Dewa Bumi, Hok Tik Ching Sin

Lebih lanjut, Bambang Suharto menjelaskan, setiap Kelenteng memiliki tuan rumah, atau biasa disebut Kongcho (secara harfiah berarti kakek). Penghormatan terhadap tuan rumah ini diwujudkan dalam penamaan kelenteng.

“Di sini, namanya Hok Tik Bio. Artinya, Kelenteng untuk Kongcho Hok Tik. Hok Tik sendiri memiliki nama lengkap Hok Tik Cheng Sin, atau Dewa Bumi,” jelasnya.

Budaya penghormatan terhadap Kongcho Hok Tik Ching Sin banyak dijumpai di masyarakat petani dan pedagang. Altar Hok Tik Ching Sin berada di tempat utama di ruang sembahyang. Penghormatan dilakukan, salah satunya dengan membakar dupa, yang kemudian diletakkan di tempat dupa.

“Saat ini, kita sedang terus membangun kelenteng ini. Banyak kalangan yang berjasa atas pembangunan kelenteng, termasuk menyumbangkan ornamen-ornamen yang membuat tempat ini semakin indah. Kita juga berharap Klenteng Hok Tik Bio Blora menjadi ikon Kota Blora,” pungkasnya. (qim)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.