INI DEFINISI KECANTIKAN MILENIAL MENURUT KORPS PMII PUTRI




Blora- Gerakan perempuan di era milenial memiliki sudut pandang yang berbeda dengan gerakan perempuan di era kolonial maupun era perjuangan. Dengan sudut pandang yang baru, gerakan perempuan akan semakin eksis di kancah persaingan jaman.

PMII melalui organisasi sayap perempuannya, Korps PMII Putri (Kopri) memunculkan definisi baru tentang peran perempuan di era milenial. Meski kodratnya tetap sama, yaitu masak, macak (berhias) dan manak (melahirkan anak) namun definisi baru berarti paradigma baru dalam bergerak.

 

INI DEFINISI KECANTIKAN MILENIAL MENURUT KORPS PMII PUTRI

Refleksi harlah Kopri ke- 51 di PMII Komisariat Sunan Pojok Blora.

 

Ketua Kopri PMII Komisariat Sunan Pojok Blora, Harirotul Husnia, menjelaskan definisi baru kodrat perempuan tersebut. Hal ini dipaparkannya mengawali refleksi harlah Kopri ke-51 di gedung LP Ma’arif NU Kabupaten Blora kemarin, Minggu (25/11).

“Masak-nya perempuan era milenial yaitu mengasah fikiran untuk melawan kebodohan. Macak-nya perempuan era milenial yaitu menghias diri dengan prestasi yang menginspirasi,” ujar Husnia.

Dirinya menambahkan, manaknya perempuan era milenial, dengan melahirkan gagasan atau pemikiran yang kreatif, inovatif, dan solutif. Ketiga hal tersebut, harus menjadi inspirasi gerakan bagi kader PMII Putri.

Perempuan Jangan Cuma Jadi Pelengkap

Selain itu, refleksi harlah Kopri ke-51 diisi dengan diskusi bersama aktivis gerakan perempuan Kabupaten Blora, Siti Lestari. Lis, sapaan Siti Lestari mengajak para mahasiswa ini, untuk berperan aktif di berbagai bidang, termasuk politik.

“Kopri harus mampu menjadi garda terdepan gerakan perempuan untuk bangsa. Sebanyak 30 persen kuota perempuan di kursi perlemen harus benar-benar dimanfaatkan dan diisi orang-orang yang tepat,” ucap Lis.

Dalam refleksi bertajuk “Meningkatkan Militansi Kader Puteri, Demi Terciptanya Kopri Yang Progresif” itu, Lis menegaskan, perempuan milenial harus memiliki wawasan yang luas. Sehingga tidak hanya menjadi tambel butoh (pelengkap).

“Perempuan jangan cuma jadi jonggol (pelengkap, red) atau tambel butoh. Jadilah perempuan yang berperan. Tetap semangat membaca buku.Tetap menjadi perempuan yang percaya diri karena perempuan mampu,”  pungkasnya. (sof)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.