fbpx

ISLAM NUSANTARA BUKAN GAGASAN BARU

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Provinsi Jawa Tengah
Pengurus Pusat GP Ansor, Moesafa menanggapi sejumlah pertanyaan dalam seminar pembukaan Kelas Pemikiran Islam Nusantara di Gedung Serbaguna NU Kabupaten Blora.

Blora- Sejak dilontarkan pertama kali sebagai tema besar Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015 lalu, gagasan Islam Nusantara segera menimbulkan kegaduhan. Berbagai reaksi pro dan kontra terhadap gagasan ini masih hangat dibicarakan hingga saat ini.

“Sekarang, jika anda mengunggah posting yang menyebutkan sisi positif Islam Nusantara, saya jamin, dalam 15 menit akan banyak diserang,” ucap Pengurus Pusat GP Ansor, Moesafa, saat menyampaikan gagasannya di seminar pembukaan Kelas Pemikiran Islam Nusantara di Gedung Serbaguna NU Kabupaten Blora, Kamis (27/12).

 

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Provinsi Jawa Tengah
Pengurus Pusat GP Ansor, Moesafa menanggapi sejumlah pertanyaan dalam seminar pembukaan Kelas Pemikiran Islam Nusantara di Gedung Serbaguna NU Kabupaten Blora.

 

Aktivis yang sebelumnya pernah berkiprah sebagai Ketua Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Faktultas Ushuluddin dan Presiden Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga 2000-2001 ini menegaskan, kegaduhan tentang Islam Nusantara ini lantaran gagal paham terhadap gagasan ini.

“Tidak ada yang baru dalam Islam Nusantara. Islam Nusantara artinya penerapan ajaran Islam di Nusantara. Sama halnya dengan istilah Islam Berkemajuan, Islam Moderat, atau bahkan Islam Terpadu,” imbuhnya setengah berkelakar.

Dalam acara yang diselenggarakan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Provinsi Jawa Tengah ini, Moesafa memaparkan tentang konstruksi gagasan Islam Nusantara, dalam konteks beretika, berbudaya, dan bernegara.

“Islam Nusantara, yang selama ini gencar diperbincangkan oleh komunitas nahdliyyin merupakan bahasa simbol, untuk menyuguhkan gagasan tentang ajaran Islam dalam beretika, berbudaya dan bernegara,” timpalnya.

Dalam konteks bernegara, NU dan Islam Nusantara telah menyelamatkan status Negara Indonesia. Menurutnya, di awal kelahiran bangsa ini, hampir saja Indonesia terjebak dalam bentuk negara agama, atau negara sekuler.

“Karena ulama-ulama pendiri bangsa yang mengikuti rapat BPUPKI menjelang kemerdekaan menyadari pentingnya bentuk kesatuan bagi negara ini, sehingga diputuskan, Indonesia merupakan Negara Kesatuan yang berbentuk Republik,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, dengan keputusan ini, Indonesia tidak terjebak dalam bentuk negara agama yang berpotensi memecah belah persatuan, serta terhindar dari bentuk negara sekuler yang memisahkan kepentingan agama dengan campur tangan negara.

Selain Moesafa, Ketua PCNU Kabupaten Blora, M. Fattah juga ikut serta menyumbangkan gagasan dalam seminar kali ini. M. Fattah berharap, seminar ini dapat mendorong para peserta yang seluruhnya merupakan perwakilan mahasiswa dari berbagai kota se- Jawa Tengah untuk terus mengeksplorasi gagasan.

Acara dilanjutkan dengan Kelas Pemikiran Islam Nusantara, yang akan berlangsung hingga 3 hari ke depan. Dalam kelas tersebut, peserta akan dipandu Instruktur Nur Sayyid Santoso Kristeva, yang telah malang-melintang di dunia kaderisasi dan pemikiran Islam progresif.

Di awal seminar, Wakil Bupati Blora, Arief Rohman menyampaikan apresiasi dan harapan terkait kegiatan ini. Usai membuka acara, Arief yang juga kader NU ini berharap, hasil pemikiran dalam kegiatan ini dapat mendorong kemajuan daerah asal peserta masing-masing. (alf)