ISLAM SOEKARNO

Saya percaya bahwa tidak ada kejadian di dunia ini tanpa sepengetahuan Allah. Tetapi saya tidak terima jika Tuhan itu, duduk di suatu tempat di atas sana dan melihat ke bawah, sehingga untuk berbicara, berpikir: ‘Saya dapat melihat Anda, Chairul Saleh, apa yang Anda lakukan di sana? Saya bisa melihat Anda, Jo Leimena, apa yang Anda lakukan di sana? ‘ … Saya ulangi, jika Tuhan hanya duduk di atas sana, maka Dia terbatas. Tetapi Tuhan ‘tanpa akhir, tanpa batas, tanpa batasan apa pun’. Tapi Dia Satu, Maha Esa! …

Jadi, Profesor Baroroh, itulah pendapat saya tentang Keesaan Tuhan. Apakah itu benar atau tidak, saya serahkan penilaian anda. Mungkin pendapat saya tentang Sifat Tuhan berbeda dari pendapat orang lain. Apakah itu benar atau tidak, wallahu alam … Saya serahkan pada Tuhan, Yang Terpuji dan Yang Mahatinggi, Pencipta Alam Semesta, Allah, Maha Terpuji dan Mahatinggi, yang adalah Satu, Maha Esa. “

Begitulah kata-kata Soekarno. Dia bisa berbicara dengan cara informal dan ramah seperti itu – menghadirkan pandangan agama yang terkadang tidak pakem – sehingga banyak orang yang melihat dan mendengarkannya merasa tenang di bawah mantranya. Jelaslah bahwa ia memiliki pemahaman yang baik tentang seni memilih kata-kata yang tepat untuk menarik sebanyak mungkin orang. Tidak mengherankan bahwa di masa kejayaan rezim Soekarno, semua kelompok dan partai berusaha untuk mencaploknya.

Banyak kehormatan diberikan kepada Soekamo oleh umat Islam Indonesia, tidak hanya dengan memberinya gelar kehormatan, tetapi juga, misalnya, gelar-gelar seperti “Anggota Setia dan Dukungan Besar Muhammadiyah”, atau, jauh sebelumnya, WaIi al-Amri Daruri bis Syauka, diterjemahkan: “penguasa yang saat ini berkuasa (dan harus dipatuhi menurut Surah 4: 59)”. Setelah kejatuhan Soekarno, beberapa penghargaan ini ditarik oleh umat Islam.

Soekarno akan terus hidup dalam sejarah sebagai pemimpin revolusi Indonesia. Makamnya di Blitar dapat menjadi semacam tempat ziarah bagi banyak orang Indonesia, terutama di Jawa. Di masa depan, umat Islam Indonesia juga akan kembali mengakui Soekarno sebagai salah satu pencipta Indonesia.

Tentang penulis: Totok Supriyanto merupakan pemerhati budaya

Transliterasi: The Struggle of Islam in Modern Indonesia, B. J. Boland (1971)

*Opini di atas adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Bloranews.com  

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.