fbpx

JEJAK FEODAL PENDOPO BLORA

  • Bagikan
JEJAK FEODAL PENDOPO BLORA
Gerbang pendopo alun-alun Blora.

Selama berabad-abad, Ringin Kurung di tengah Alun-alun, tempat bersemayamnya kepala ular naga dalam legenda tanah Blora itu, menjadi tempat kawula untuk mengadu, mengaharapkan keadilan. Sungguh dia harus berpuasa mutih selama tujuh hari tujuh malam disitu, sehingga dengan kebulatan tekadnya dia dilihat dan dipanggil untuk bertemu dengan Bupati.

 

JEJAK FEODAL PENDOPO BLORA
Gerbang pendopo alun-alun Blora.

 

Dia menuju ke arah utara tempat Pendopo berada. Tampak gerbang masuk besar dengan pilar-pilar ganda, bulat dan menjulang, sementara di sisi kiri dan kanannya terdapat bangunan berbentuk Joglo, untuk keperluan penjagaan. Tegak lurus dengan gerbang terlihat tiang-tiang besi teras Pendopo, dikelilingi sejuknya pohon Beringin Putih dari penjuru Kawedanan. Meski bukan bentuk Pendopo Joglo megah layaknya keraton Surakarta, namun tampak bahwa bangunan itu paling dominan diantara yang lainnya. Semua bentuk tampilan itu berkesan simetris, antara kiri dan kanan, persis Gunungan Wayang. Sebagai bukti sifat adil penghuni, tetapi haruskah kawula merangkak dengan pelan dan hati-hati?

Bupati keluar dari rumah dinas menuju Pendopo yang berjarah hanya dua tombak saja. Terdengar suara Perkutut tak jauh dari rumah, rupanya burung itu diletakkan di teras di dalam sangkar dengan ranting semak serut didalamnya. Di sebelah timur anak perempuannya mengintip dari bilik kamar dengan kaca jendela ganda. Ia tak boleh bertemu tamu, siapapun, yang bukan dari kalangannya.

Di seluruh wilayah Blora, tak ada orang yang sanggup mengalahkan wibawa Bupati, sehingga kawula tak sanggup untuk berkata apalagi berdiri. Niat kuat di awal itu hanya singgah dihati, akan halnya petunjuk Bupati, oleh adat dijadikan ramalan esok hari, bahkan oleh kalangan abdi, adalah Sabda Pandhita Ratu yang selalu ditaati.

Itu keadaan dulu, sebelum feodalisme ala kolonial itu berlalu. Sekarang, semua bentuk sudah berubah, tak ada lagi gapura dengan pilar, bangunan dengan jendela dan pintu ganda; terpaksa menjadi minimalis. Kaidah Mancapat, disimbolkan dengan empat pintunya, sudah tak dikenali. Atap-atap sirap, gardu-gardu paseban, berganti pos-pos satpam. Tak ada orang yang berjuang dengan merangkak dari alun-alun, sementara pohon beringin sisi utara hampir rubuh, jarang dikunjungi siapapun.

Semua bangunan “putih” kolonial itu pastinya sudah rusak, tetapi kawasan Pendopo tetap menyisakan jejak batin feodal yang masih kentara sampai sekarang. Jejak itu mungkin berada di alam pemikiran mistis, yang seakan tak lekang oleh perubahan zaman. Untuk memastikan hal itu, lihatlah ekspresi dan bahasa tubuh sebagian besar orang-orang yang berkunjung ke Pendopo Bupati Blora.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

  • Bagikan