KERA BERDASI

Membahas kera atau monyet, diskursus tentang teori evolusi selalu dijadikan rujukan secara sains. Teori dan pemikiran Charles Darwin mengenai evolusi makhluk hidup menggunakan kajian secara ontologi dan epistemologi yang didasarkan pengamatan-pengamatan yang sudah dilakukan. Kemudian dianalisis untuk menyimpulkan konsep teori adaptasi dan seleksi alam. 

 

Joko Yuliyanto

Joko Yuliyanto.

 

Dalam kajian ilmu biologi dikenal teori evolusi yang berarti bahwa makhluk hidup mengalami perubahan (modifikasi) dari makhluk hidup sebelumnya. Bagi Linnaeus, membedakan kera dan manusia dari sudut pandang sains tidaklah mudah. Linnaeus (1995: 4-5) dalam Agamben (2002: 24) menyatakan bahwa tidak ada satu tanda pun yang membedakan manusia dan kera.

Meski begitu, Linnaeus yang merupakan pencetus istilah Homo sapiens memberi pembedaan antara hewan dan manusia bukan dalam ranah sains. Bagi Linnaeus, manusia tidak punya identitas yang spesifik selain kemampuannya menyadari dirinya sendiri. Agamben (2002: 25) menjelaskan bahwa manusia adalah hewan yang harus menyadari dirinya sendiri sebagai manusia untuk menjadi manusia.

Manusia terlalu egois menyatakan sesuatu lainnya sebagai hewan atau benda. Manusia menganggap diri sebagai makhluk sempurna yang diberikan kecerdasan untuk beradaptasi. Mereka bisa berinteraksi, berkomunikasi, dan bertahan hidup untuk mewujudkan keinginannya. Manusia bebas menentukan hak atas kesimpulan yang terjadi di alam semesta.

Teori evolusi menjadi peringatan bahwa kemajuan teknologi akan menggantikan superioritas manusia. Ketika manusia mendefinisikan kera sebagai hewan, mungkin suatu saat robot akan mengklasifikasikan manusia sama seperti hewan. Dari kera yang dianggap cikal bakal manusia, kita bisa mengambil banyak pelajaran tentang karakter yang dimilikinya.

Manusia Kera

Ada yang menarik dari perilaku kera, baik di alam liar atau ketika sudah dipelihara. Setiap apa yang diberikan oleh manusia, kera selalu menerimanya. Misalkan tangan kanan memegang pisang, tangan kiri memegang kacang, dan kedua kakinya masih meraih pemberian makanan atau minuman lainnya.

Kera adalah simbol hewan serakah yang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diberikan. Karakter pada kera melekat pada manusia yang selalu mempunyai ambisi untuk memenuhi hasrat nafsu keinginannya. Selalu merasa kurang dan melakukan segala cara untuk mewujudkan segala sesuatu yang bisa menguntungkannya.

Pejabat yang melakukan praktek cuci uang di pemerintahan adalah contoh nyata kera-kera yang menjelma menjadi manusia-manusia berdasi. Ketika pendapatan yang sangat layak sudah dicapai, popularitas juga sudah diraih, mereka masih mencari celah untuk korupsi. 

Kera tidak pernah malu melakukan segala hal yang menjadi keinginannya. Kencing di sembarang tempat, tidak berpakaian sambil bergelayutan di atas pohon. Demikian halnya para pelaku korupsi yang begitu percaya diri menyapa masyarakat di depan kamera. Melambaikan tangan dan memberikan senyum tanpa perasaan bersalah.

Manusia-manusia kera sudah membuat habitat di ruang-ruang pemerintahan, di bilik-bilik perkantoran, dan di gedung-gedung parlemen. Memanipulasi dengan pakaian jas berdasi. Berkampanye di mimbar-mimbar politik untuk menarik suara-suara dari manusia-manusia lugu yang mudah ditipu.

Dalam pandangan masyarakat Tionghoa, Shio Monyet memiliki kepribadian yang tajam, pintar, namun sedikit nakal. Shio Monyet juga disebut sebagai sumber lelucon dalam sebuah kelompok. Mereka senang bermain-main di sebagian besar waktunya. Para monyet juga menunjukkan perilaku mirip manusia, seperti oportunistis. Mencari peluang untuk memenuhi nafsunya.

Jika para pejabat menunjukkan etika dalam berperilaku dan memiliki moral untuk tidak korupsi, berarti mereka masih berstatus sebagai manusia. Tapi jika manusia sudah mulai meniru kera dengan perilaku korupsi dan tidak tahu malu, berarti mereka adalah bagian dari hewan. Manusia membedakan diri dengan hewan karena moralitas. Akal untuk berpikir dan hati untuk berempati. 

Kera menjadi pembelajaran tentang keserakahan, ketidakmampuan, dan kelicikan untuk kepentingan dirinya sendiri. Charles Darwin mungkin sudah berasumsi bahwa manusia diwarisi karakter kera. Meskipun secara fisik dan biologis berbeda, tapi secara karakter hampir serupa, utamanya bagi para pejabat berdasi yang doyan korupsi.

Tidak ada konsep bersyukur. Semua dimakan sendiri. Tidak ada rasa empati terhadap sosial. “Bagiku milikku, bagimu milikku.” Semoga kera-kera berdasi di pemerintahan bisa berevolusi kembali menjadi manusia yang seutuhnya. Jika masih kecanduan korupsi, jangan marah jika kami menyebut koruptor adalah segerombolan kera berdasi.

 

Tentang Penulis : Joko Yuliyanto merupakan Penggagas Komunitas Seniman NU. Penulis Buku dan Naskah Drama. Aktif Menulis Opini di Media Daring.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan