fbpx
OPINI  

KESETARAAN, KETERBATASAN, DAN MASA DEPAN PEREMPUAN

PEREMPUAN
Ilustrasi :Niam Jamil

“Sejak kapan perempuan menjadi pihak yang lebih dirugikan dalam Ketidaksetaraan Gender?”. Terlihat bahwa istilah tersebut tidak merujuk ke gender manapun. Ketidaksetaraan tersebut menimbulkan batasan-batasan tak kasat mata bagi perempuan, bahkan perempuan muda. Padahal, Kesetaraan Gender merupakan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yang memuat janji-janji para pemimpin dunia untuk mengupayakan masa depan penuh harapan bagi generasi yang akan datang. Apakah yang akan terjadi jika generasi muda tidak dapat mempertahankan upaya tersebut? bagaimana perempuan akan kehilangan kendali atas harapan mereka?.

Kesetaraan Gender, seperti yang dimuat dalam Lampiran Inpres No.9 Tahun 2000, adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Sedangkan Keadilan Gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan. Instruksi tertulis ini menegaskan pada masyarakat luas bahwa ketidaksetaraan gender nyata adanya di kehidupan masyarakat Indonesia, dan tentu saja tidak boleh dibiarkan. Akan tetapi, instruksi tertulis ini nampaknya tidak terlalu berpengaruh dalam melindungi kesetaraan perempuan. Mari kita tebak darimana akar permasalahannya.

Jika dilansir dari Data Kependudukan per Semester 1 2021 oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian dalam Negeri Republik Indonesia, terdapat 272.229.372 jiwa penduduk dengan 137.521.557 jiwa diantaranya adalah laki-laki dan 134.707.815 jiwa perempuan. Bukan perbedaan yang jauh, berarti tidak ada masalah dengan keketatan persaingannya. Laki-laki dan perempuan memiliki besar kesempatan yang hampir sama dalam perolehan posisi dalam pekerjaan dan pendidikan, mengingat ketidaksetaraan gender paling sering terjadi di kedua aspek tersebut.

Kesempatan yang rata sudah ada, tapi lingkungan masyarakat umum tetap saja lebih bias terhadap laki-laki. Tidak usah jauh-jauh hingga ke dunia professional dewasa, ketidaksetaraan gender justru bahkan telah ada dari lingkungan generasi muda kita, hanya saja generasi muda tidak menyadarinya dan orang dewasa cenderung menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tidak ada yang sadar bahwa ketidaksetaraan gender membatasi ruang perempuan untuk bergerak. Batasan-batasan itu tadi kemudian mengekang perempuan dan membuat mereka harus selalu menghadapi pilihan sempit yang pada dasarnya tidak perlu juga mereka lakukan. Mengapa?, karena budaya patriarki tanpa disadari masih tumbuh bersama generasi muda kita.

BACA JUGA :  GANJAR DAN MAHASISWA ACEH INISIASI RAWAT MAKAM POCUT MEURAH INTAN DI BLORA

Dalam Theorizing Patriarchy, Walby (1990:20) mendefinisikan patriarki sebagai struktur sosial dan prakteknya dimana laki-laki mendominasi, mengoperasikan dan mengeksploitasi perempuan. Semua orang terlalu berfokus pada patriarki dunia dewasa, melupakan bahwa justru praktik patriarki gender skala kecil yang kerap terjadi di lingkungan generasi mudalah yang menyebabkan ketidaksetaraan gender lebih sulit untuk dikontrol. Ya, karena selalu dinormalisasi dan dianggap sepele. Contoh paling sederhananya adalah stereotip perempuan terlalu lemah untuk memimpin dan melakukan pekerjaan berat. Kekuasaan tertinggi baik di kelas maupun organisasi internal tingkat siswa di sekolah seperti ketua cenderung ditawarkan terlebih dahulu kepada laki-laki, sedangkan posisi yang berhubungan dengan kegiatan administratif dan membutuhkan ketelitian akan dilimpahkan kepada perempuan. Perempuan dengan kemampuan dan pengetahuan tinggi menghadapi keterbatasan, karena stereotip perempuan yang selalu dinomor duakan, menjadi cadangan jika laki-laki tidak bisa melakukannya. Padahal jika tidak bisa, ya tidak bisa saja. Laki-laki tidak selalu serba bisa, dan perempuan tidak selalu serba tidak bisa.

Pembatasan terhadap perempuan di lingkungan generasi muda yang dibiasakan sejak dini ini juga kadang berdampak pada konsep diri perempuan. Elizabeth B. Hurlock, seorang pengarang buku-buku tentang psikologi dari Amerika, mengatakan dalam bukunya yang berjudul Personality Development bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi yang dicapai individu. Pengekangan terhadap pilihan dan harapan, seperti penilaian masyarakat mempengaruhi konsep diri mereka. Ini pula yang sejatinya melahirkan stereotip gender kepada perempuan. Stereotip itu muncul dari identifikasi kita terhadap lingkungan sekitar melalui peniruan perilaku. Akhirnya, persepsi karena kesamaan perilaku mendatangkan batasan-batasan mengekang. Rumit memang, tapi inilah lingkaran yang kenyataannya masih ada di lingkungan sosial generasi muda Indonesia.

BACA JUGA :  ANGGOTA LEGISLATIF DI DOMINASI LAKI-LAKI, BEGINI TANGGAPAN FOUNDER PEREMPUAN MENGAJI

Persepsi akibat stereotip konsep diri itu mengakibatkan perempuan harus selalu berjuang melawannya. Perempuan tidak boleh terlihat lemah, irasional, emosional, bergantung, tidak tegas, dan lain-lain. Mereka harus melakukan hal yang sebaliknya agar dapat bertahan dan bersaing dalam lingkungan masyarakat. Setiap perempuan harus mempertahankan harga diri dan hak mereka dalam bermimpi. Perempuan muda juga punya keinginan, mimpi-mimpi saat dewasa, ide-ide cemerlang yang dapat membangun negeri, kemampuan untuk membantu dunia lebih baik seperti 17 tujuan dan 169 target yang dimiliki SDGs. Jangan sampai stereotip membatasi mereka. Kita tidak ingin perempuan menjadi takut untuk bermimpi dan bersuara, karena mereka menganggap sia-sia saja mereka berjuang, toh lingkungan sosial masyarakat yang mayoritas dikuasai oleh laki-laki ini kurang menerima, bukan, bahkan tidak menerima mereka. Satu-dua dengan privilege dan ketangguhan hati yang tinggi mungkin berhasil menembus batasan tersebut, sayangnya mungkin lebih banyak yang tidak. Para perempuan muda mungkin harus mengubur mimpi mereka dalam-dalam, berusaha menerima kenyataan untuk hidup mengikuti alur sosial yang sudah ada sejak dahulu.

Dan ternyata, akhir-akhir ini keterbatasan perempuan mulai menyebar luas di antara pergaulan generasi muda. Penyaing perempuan sekarang bukan hanya laki-laki saja, namun juga perempuan lain. Beauty Privilege, keuntungan dimana perempuan yang berpenampilan lebih menarik akan didahulukan dan dimudahkan segala urusannya. Seolah cantik sudah menyelesaikan setengah masalah hidupnya. Banyak kasus dimana perempuan muda yang penampilannya ‘kurang menarik’ dikucilkan dari lingkaran pertemanan mereka di sekolah. Tidak diajak berbicara, saat berbicara pun bukannya diterima malah direspon, “ngapain sih ikut-ikut?”. Belum lagi perempuan dengan penampilan menarik dianggap pintar, sopan, penurut, dan lain-lain. Sedangkan yang tidak, seolah berperilaku buruk. Atasan yang mayoritas laki-laki cenderung tidak galak dan menyukai perempuan muda berpenampilan menarik. Bagaimanakah nasib generasi muda kedepannya jika penampilan saja menilai kinerja mereka?.

BACA JUGA :  MIRIS! INDEKS PEMBANGUNAN GENDER KABUPATEN BLORA TERENDAH SE-JATENG EMPAT TAHUN BERUNTUN

Dunia berkembang pesat, apalagi di sektor teknologi yang memegang kunci kemajuan peradaban di masa yang akan datang, dan bagaimana generasi muda yang dapat mengejar kecanggihannya. Artinya, kita harus memberikan edukasi yang baik sejak dini untuk generasi muda, melihat berbagai uraian dan contoh kasus ketidaksetaraan gender di atas. Sepertinya sekolah harus mulai mengajarkan edukasi kesetaraan gender. Jangan pernah menganggap edukasi kesetaraan gender ataupun bahkan edukasi seksual sebagai hal yang tabu. Memberikan dan mengajarkan edukasi apalagi ke orang dewasa memang mudah, tapi membuat mereka menerapkannya lah yang sulit. Harusnya kita mulai dengan mengedukasi dan membiasakannya sejak dini agar tertanam pada perilaku generasi muda penerus bangsa kita, tapi jangankan begitu. Anak muda jaman sekarang tak bisa dibandingkan dengan anak muda jaman dahulu. Sekarang, anak muda bisa cenderung lebih ‘liar’ dan berani dalam berperilaku daripada orang dewasa. Jika hal ini dibiarkan, cita-cita untuk menjadi dunia yang lebih baik untuk dihuni pada 2030 adalah angan belaka. Kemajuan teknologi bukannya membawa banyak dampak positif, malah menjerumuskan pribadi, pola pikir, perilaku, mereka. Pengaruh teknologi dan internet pada generasi muda sekarang mengerikan sekali.

Generasi muda, adalah kunci paling penting yang dimiliki bangsa kita. Kita tidak bisa mengubah hal lampau, tapi kita masih bisa berusaha untuk mengubah generasi muda menjadi lebih baik, salah satunya dengan mengedukasi dan membiasakan mereka sejak dini. Titik utama perubahan skala besar ada di generasi muda. Bayangkan saat generasi muda yang kita didik dan edukasi sebaik mungkin, beranjak dewasa dan siap menjadi pasak dunia. Kesetaraan ditegakkan, keterbatasan diruntuhkan, harapan dikabulkan dan perempuan dibebaskan. Akan seindah apa dunia ini untuk dihuni kelak?.

Tentang Penulis: Mayra Reninta Khansa (Juara 1 Kelas Menulis Blora Education Fair).

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com