fbpx

LEBIH DEKAT DENGAN JEDORAN, HAMPIR PUNAH TETAP DIPERTAHANKAN

Jedoran yang ada di Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, sudah berdiri kurang lebih sejak tahun 1980 an. Musik tradisional Jedoran ini tetap dipertahankan meski hampir punah.
Grub Jedoran Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.

Ngawen – Jedoran yang ada di Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, sudah berdiri kurang lebih sejak tahun 1980 an. Musik tradisional Jedoran ini tetap dipertahankan meski hampir punah.

Ketua Grub Jedoran, Khomsin (64) mengaku, bahwa dirinya merupakan generasi kedua. Ia juga menyampaikan, begitu sulitnya mencari generasi penerus lantaran belum ada ketertarikan di dunia Jedoran.

BACA JUGA :  LEBIH DEKAT DENGAN ALIF KRIWUL, JUARA FESTIVAL DALANG BOCAH NASIONAL 2017.

“Inginnya ya punya generasi, mas. Tapi yang melanjutkan kok ya belum ada sampai sekarang. Saya juga pernah mengajari orang untuk latihan, tapi ya gitu, pada mundur. Anak-anak sini kalau sudah lulus sekolah pergi merantau,” keluhnya, Minggu (23/01) malam.

Grub Jedoran dari Desa Trembulrejo tersebut memiliki sebanyak 12 personil, masing-masing berbeda-beda dalam memainkan alat musik, baik alatnya maupun cara memukulnya. Dalam Jedoran ada empat alat musik yang dimainkan, yakni Jedor, Ketuntung, Terbang dan Kendang.

BACA JUGA :  POLISI PASTIKAN PAGELARAN MUSIK DI DESA PRIGI TODANAN TAK BERIJIN

Khomsin menambahkan, grubnya sudah pernah diundang untuk mengisi acara hampir di Seluruh Desa yang ada di Kecamatan Ngawen. Juga pernah main di daerah Kecamatan Randublatung dan Blora Kota.

“Biasanya kita itu diundang dalam acara pernikahan, sunatan, pupakan, tekas deso (sedekah bumi, red). Selain itu juga diundang pada acara maulidan, rojaban. Dari kegiatan tersebut jedoran ini tetap berjalan. Yang mengundang kami biasanya orang yang sudah tua atau biasanya sudah hobi,” tambahnya. (Jam).

BACA JUGA :  LUKISAN PELEPAH PISANG DARI BURADEN