LEBIH DEKAT DENGAN KANG SHOLEH, PELUKIS KHAT DARI DRINGO

Todanan – Tidak banyak pelukis kaligrafi di Blora. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan jiwa seni untuk menyelesaikan sebuah lukisan kaligrafi. Kang Sholeh dari desa Dringo Todanan merupakan salah satu pelukis kaligrafi Blora, yang karyanya telah banyak diminati konsumen lokal maupun luar daerah.

Kang Sholeh hanya melukis khat (seni menulis arab). Untuk menyelesaikan sebuah khat, sarjana syariah STAI Almuhammad Cepu ini membutuhkan waktu antara dua sampai tiga hari.

 

Kaligrafi

Kang Sholeh dengan kaligrafi karya nya Foto : Fb Ahmad Soleh Kaligrafi

 

“Setidaknya ada tiga tahapan untuk menghasilkan sebuah khat. Pertama adalah membuat pola dan menerapkannya pada kain  atau kanvas. Tahap kedua adalah mewarnai, kita pakai pewarna silicon foil untuk warna-warna terang. Dan tahap terakhir adalah pengeringan dan finishing. Kira-kira butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya” jelas Kang Sholeh kepada Bloranews.com.

Khat atau kaligrafi Kang Sholeh banyak dipesan konsumen dari daerah-daerah di luar Blora. Bahkan, konsumen-konsumen dari ibu kota pernah beberapa kali memesan khat karyanya.

“Pemesan khat ini dari berbagai daerah, mulai dari Grobogan, Pati, Rembang, Jepara, Jember, Kudus bahkan beberapa kali dari Jakarta” ujarnya. Untuk sebuah khat, Kang Sholeh mematok harga dari seratus ribu rupiah sampai 1,5 juta rupiah. Tergantung tingkat kerumitan dan ukuran (dimensi) khat.

Bakat melukis khat Kang Sholeh diperoleh dari pesantren tempat dia belajar. Selepas mondok, banyak tetangganya yang meminta tolong untuk membuatkan kaligrafi dalam acara-acara syukuran kelahiran. Bakat yang dimilikinya pun kian terasah. Kini, dengan membuat khat, Kang Sholeh dapat memberi nafkah bagi keluarganya.

Selain menekuni dunia khat atau kaligrafi arab, sehari-hari Kang Sholeh juga mengajar di sebuah MI dan Madrasah diniyah di desanya, Dringo Todanan [.]

Reporter : Arif Syaifuddin

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.