Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

LEGENDA KALI LUSI




Keesokan harinya barulah hujan deras dan angin rebut itu reda. Tempat tinggal Kyai Mranggi dan Kyai Bahurena juga longsor. Kyai Mranggi menyebut hutan yang rusak itu Desa Coban, sebab di tempat tersebut Kyai Mranggi mendapat coba (cobaan dari Tuhan).

Kemudian Kyai Mranggi memutuskan untuk mencari tempat tinggal ular naga yang merusak tempat tinggalnya. Dalam perjalanan mencari ular naga itu, lahirlah nama-nama desa dan tempat tinggal sebagai penanda peristiwa yang dialami oleh Kyai Mranggi. Ada Desa Gunung Kajar (dari kata pajar), Desa Timbrangan (dari kata tetimbangan), Desa Sucen (dari kata asu blecen), Desa Tegaldawa (dari kata dawa), karena di tempat tersebut ada makam yang panjangnya 4 meter, Desa Penden Wedalan (dari kata wedel), Desa Pecak Selawe (dari kata dipecaki ping selawe, diukur dengan langkah sebanyak 25 langkah), dan lain-lain.

Beberapa daerah telah ditelusuri oleh Kyai Mranggi tetapi ia belum juga menemukan ular naga. Kemudian Kyai Mranggi pergi ke puncak Gunung Butak, tempat Syekh Jati Kusuma bertapa.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan