fbpx

LIBATKAN RIBUAN PETANI, OASA DORONG PERTUMBUHAN EKONOMI KERAKYATAN DI BLORA

Blora, BLORANEWS – Perusahaan biomassa yang digawangi PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Blora dengan melibatkan ribuan petani dalam proses produksi bioenergi.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Maharaksa Biru Energi Tbk, Bobby Gafur Umar saat Penandatanganan naskah kerja sama dengan sejumlah lembaga pertanian di Blora, Kamis 25 April 2024.

“Di Blora ini ada 6 Kecamatan. Satu kecamatan kira-kira 1.000 petani. Kalau satu petani ada seorang istri dan dua orang anak, berarti 6.000 kali 4, bisa mencapai 24 ribu petani. Jadi, sedikitnya 24.000 petani ikut diberdayakan. Inilah esensi ekonomi sirkular, ekonomi kerakyatan,” ucapnya.

Bobby menjelaskan, pola pengembangan pertanian melalui program inti-plasma bisa diterapkan. Yakni dengan melibatkan koperasi dan gabungan usaha pertanian, guna mengembangkan berbagai jenis tanaman seperti turi, lamtorogung dan kaliandra.

“Kita harus berusaha menumbuhkan ekonomi kerakyatan tanaman energi. Hal itu telah dan akan diterapkan oleh PT Maharaksa Biru Energi Tbk di sejumlah usaha pengembangan biomassa di beberapa daerah,” jelasnya.

“Di pulau Bangka, dimana OASA juga telah menjalankan pabrik woodchippenebangan pohon dan tanaman-tanaman untuk keperluan bahan baku telah dilakukan secara konsisten dengan melibatkan kekuatan penuh petani, diikuti dengan penanaman kembali, sebagai bagian dari penghijauan dan menjaga keberlanjutan usaha,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Bobby mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan biomassa untuk program co-firing PLTU masih jauh dari kata cukup. Hingga tahun 2023, capaiannya baru 1 juta ton dari 10,2 juta ton yang direncanakan hingga tahun 2025.

“kebutuhan biomassa tersebut tak lepas dari penggunaan biomassa yang secara nyata telah mampu mereduksi emisi di PLTU, dan mengurangi porsi penggunaan energi fosil. Selain itu, walau kebutuhan naik, penggunaan biomassa tak akan mengerek biaya pokok produksi pembangkit. Harga biomassa yang terjangkau bahkan berbanding 1:1 dengan batu bara, membuat biomassa sangat ekonomis,” terangnya.

Dengan meningkatnya penggunaan biomassa untuk co-firing PLTU, maka reduksi emisi ditargetkan bisa mencapai 2,4 juta ton CO2 pada tahun ini. Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi penurunan emisi pada tahun 2023 yang berjumlah 1,05 juta ton CO2.

“Jumlah PLTU yang menggunakan biomassa dipastikan akan bertambah, sehingga total kebutuhan biomassa diprediksi meningkat hingga 10,2 juta ton,” pungkasnya. (Dj)