fbpx

MELIHAT POTENSI SUMBER KELISTRIKAN DI BLORA

  • Bagikan
Listrik Blora
Opini oleh: Didik Aprianto (Praktisi Kelistrikan)

Membahas mengenai energi, mungkin banyak orang yang belum tahu tentang Blora. Tetapi jika kita bicara Blok Cepu, maka hampir dipastikan semua akan tahu potensi energinya. Ketika berbicara tentang Blok Cepu, maka tidak bisa dipungkiri bahwa Blora merupakan salah satu daerah penyangga dari Blok Cepu tersebut. Blok Cepu merupakan daerah penghasil minyak mentah dan Gas, maka demikian juga dengan Blora. Minyak mentah dan Gas inilah yang sangat mungkin di konversi menjadi energi listrik. Untuk menghasilkan listrik agar bisa di manfaatkan, ada beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi antara lain bahan bakar, teknologi pembangkit listrik dan pendistribusian Listrik ke sistem jaringan listrik.

Mengenai bahan bakar, di Blora ada 2 sumber energi utama yaitu minyak mentah dan Gas. Dalam hal ini, jika menggunakan bahan bakar minyak mentah akan menjadi kurang efisien sehingga gas akan menjadi pilihan yang sangat baik. Potensi gas di Blora cukup besar, hal ini terbukti dengan adanya Central Processing Plant (CPP) Gundih yang berasal dari struktur Kedungtuban, Randu Blatung dan Kedung Lusi milik Pertamina EP yang sudah mengoperasikan Plant ini sejak 2011. CPP Gundih ini memasok gas ke PLTGU Tambak Lorok di Semarang sebesar 50 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) untuk menghasilkan listrik sebesar 1033 MW. Sehingga dalam urusan bahan bakar, Blora memiliki kapasitas yang cukup mumpuni. Apa artinya 1033 MW ini? Jika diambil rata-rata setiap rumah membutuhkan daya sebesar 1300 Watt, maka 1033 MW ini akan mampu menerangi lebih dari 794.000 rumah, lebih dari cukup untuk menerangi rumah di seluruh Kabupaten Blora (Berdasarkan data BPS Kab. Blora pada tahun 2015, jumlah rumah di Kabupaten Blora sebanyak 254.694 Unit).

 Mengenai Teknologi, dengan adanya sumber gas yang cukup mumpuni maka Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) menjadi yang paling mungkin dipakai. PLTGU ini biasa juga disebut dengan Combined Cycle Power Plant, yaitu sebuah teknik pembangkitan listrik yang menggunakan gas untuk memutar turbin gas secara langsung selanjutnya sisa panas dari Turbin Gas di gunakan untuk memanaskan air di boiler untuk menghasilkan uap dan uap tersebut digunakan untuk menggerakkan turbin uap. Turbin-turbin inilah yang menghasilkan Listrik. Untuk menunjang teknologi PLTGU ini dibutuhkan air yang cukup besar. Guna memenuhi kebutuhan air tersebut, Blora memiliki Sungai bengawan Solo yang berada di perbatasan jawa tengah dan jawa timur dengan kapasitas sekitar 305 juta meter kubik dan juga sungai Lusi yang membelah Kabupaten Blora.

 

Skema listrik Di Blora
Gambar 1. Ilustrasi PLTGU (Gambar diambil dari www.zeroco2.no)

 

Setelah dihasilkan Listrik, maka listrik tersebut perlu di transmisikan ke jaringan Listrik Jawa-Bali. Mengenai jaringan yang menghubungkan listrik Jawa-Bali ini tidak menjadi masalah. Karena dari beberapa sumber menginformasikan bahwa PLN berencana membangun SUTET untuk pengembangan jaringan SUTET Jawa-Bali di daerah Kudus, Pati, Rembang Dan Blora (sumber dari: http://www.murianews.com/2016/02/07/70794/di-pegunungan-patiayam-juga-bakal-didirikan-sutet.html)

Dilihat dari uraian tersebut, sebenarnya Blora memliki potensi yang besar untuk menjadi daerah penghasil listrik. Namun sekali lagi, uraian ini baru sebatas opini yang dilihat dari sisi teknis yang paling dasar. Jika opini ini ingin diwujudkan maka dibutuhkan Studi Kelayakan yang lebih Komprehensif untuk mengetahui dampak lingkungan, sosial , ekonomi dan dampak-dampak yang lain. Namun jangan terpaku dengan bahan bakar gas, karena sekarang sudah saatnya untuk mengembangkan sumber energi terbarukan. Bukankah Blora terkenal dengan Panasnya? Maka solar cell bisa menjadi alternatif lain.

Opini oleh:

Didik Aprianto

Praktisi Kelistrikan

banner 120x500
  • Bagikan