fbpx

MEMBANGKITKAN JIWA ENTREPRENEUR PEMUDA UNTUK INDONESIA BERDIKARI

  • Bagikan
Sugiharto,S.H.
Sugiharto,S.H.

Sebuah negara dapat dikatakan sebagai negara maju salah satunya apabila pelaku entrepreneur harus lebih dari 14% dari rasio penduduknya. Sementara di Indonesia, pelaku entrepreneur baru 3,1% sehingga perlu diadakan percepatan dan kemudahan agar pelaku ekonomi Indonesia bisa meningkat jauh.

 

Sugiharto,S.H.
Sugiharto,S.H.

 

Salah satu percepatan yang dapat dilakukan yaitu apabila generasi pemuda terutama anak-anak setingkat SLTA maupun mahasiswa sudah di bekali dengan jiwa pengusaha atau entrepreneur. Pengertian entrepreneur sendiri menurut KBBI adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya. Sedangkan menurut sumber Wikipedia yaitu entrepreneur adalah seorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari cara-cara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan serta menghasilkan barang atau jasa dalam upayanya memuaskan kebutuhan orang lain. Pemanfaatan sumber daya itu banyak, bisa berupa sumber daya alam yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui.

Hal ini juga yang dilakukan oleh pemuda di Blora, tepatnya di Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban melalui badan hukum yang diberi nama “Yayasan Bank Sampah Greget Lumintu” dengan nomor SK NOMOR AHU-0000747.AH.01.04.Tahun 2020 mereka membuat wadah bagi para pemuda di sekitar dengan memanfaatkan sumber daya berupa bahan-bahan bekas berupa sampah organik maupun anorganik baik yang berupa plastik maupun lainnya untuk kemudian diolah dengan menjadi sebuah piala, cinderamata yang bernilai ekonomis. Kegiatan ini tentu patut di apresiasi dan ditiru oleh pemuda Blora lainnya dengan inovasinya masing-masing agar jiwa entrepreneur pemuda di Blora bisa terasah dan berkembang.

Berbagai masalah yang timbul selama ini banyak sekali anak-anak sekolah setingkat SLTA maupun mahasiswa setelah lulus kuliah hanya menjadi bagian alat produksi dengan melamar kerja menjadi karyawan, menjadi buruh-buruh pabrik. Padahal di era milenial di mana teknologi telah berkembang pesat  hal tersebut dapat diganti dengan mesin-mesin tentu jika anak-anak muda tidak dibekali skill berwirausaha untuk berinovasi mereka akan tertinggal dengan negara maju lainnya. Apalagi saat ini di tengah corona dimana kondisi ekonomi sedang tidak stabil banyak sekali pabrik-pabrik melakukan kebijakan dengan pengurangan karyawan, tentu hal itu berdampak bagi karyawan yang tidak siap dengan kondisi itu dimana mereka belum mempunyai jiwa entrepreneur.

Berbagai pelatihan entrepreneur atau wirausaha perlu digalakkan lagi dan diperluas melalui BLK (Badan Latihan Kerja) dimana agar pemuda-pemudi Indonesia selaku penerus generasi bangsa mempunyai sarana dan prasarana tempat atau wadah pelatihan untuk mendapatkan keterampilan atau yang ingin mendalami keahlian di bidangnya masing-masing. Program dan sosialisasi itu dapat dilakukan dengan masuk ke sekolah-sekolah, kampus dan bisa juga bekerja sama dengan lembaga agama pondok pesantren. Jika hal ini dilakukan dengan baik tentu hal ini akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan di Indonesia dalam rangka mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, berdikari di tahun 2045 akan segera terwujud dan terealisasi. 

 

Tentang Penulis : Sugiharto,S.H. Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan saat ini sedang menyelesaikan studi sebagai mahasiswa S2 jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM Yogyakarta.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: Konten dilindungi!!