fbpx

MEMBELA SENGKUNI

  • Bagikan
MEMBELA SENGKUNI
Pandu Nusantara.

Siapa tidak kenal Sengkuni? Sosok fenomenal dalam cerita pewayangan, dia adalah simbol dari kemunafikan, keserakahan, arogansi dan angkara murka. Di dunia ini kapan dan dimana pun orang- orang yang mempunyai sifat dan karakteristik seperti Sengkuni pasti ada dan akan selalu ada. Dan saat ini, di negeri +62 sosok Sengkuni sering dikait-kaitkan dengan beberapa tokoh politiknya.

 

MEMBELA SENGKUNI
Pandu Nusantara.

 

Dalam cerita wayang, ” karier politik” Sengkuni berawal saat di menjadi guru bagi Para Kurawa yang merupakan anak-anak dari adiknya, Gendari. Suatu ketika Gendari yang dinikahi Destrarastra memintanya mencari cara agar salah satu dari seratus anaknya menjadi Raja Astina, yang saat itu dipegang oleh Prabu Pandu Dewanata, adik kandung Destrarastra. Iklim politik di Astina yang saat itu bersih dan tenang seketika menjadi keruh ketika Sengkuni mulai bermain.

Misalnya, saat Sengkuni  menggulingkan Patih Gandamana dengan segala fitnah dan tipu muslihatnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Patih Gandamana harus meninggalkan Astina. Namun Sengkuni harus membayar mahal atas ulahnya tersebut. Dia yang semula gagah dan tampan menjadi buruk rupa dengan muka bopeng-bopeng karena dihajar Gandamana.

Kelicikan Sengkuni berlanjut ketika ia berhasil memperdaya Destrarastra agar menobatkan Jaka Pitana (Duryudana) menjadi Raja Astina sepeninggal Prabu Pandu Dewanata. Padahal, sebenarnya Destrarastra tahu bahwa anak-anak Pandu-lah yang berhak menjadi Raja Astina.

Muslihat yang lain adalah ketika Sengkuni menyarankan Kurawa agar mengundang Pandawa untuk bermain dadu di Astina. Undangan bermain dadu adalah kehormatan bagi raja-raja dan pantang untuk ditolak. Maka berangkatlah Yudistira dan adik-adiknya beserta Drupadi istrinya ke Astina demi memenuhi undangan tersebut.

Sudah bisa ditebak siapa yang akan menjadi pemenang dari permainan dadu tersebut. Atas ide dan kelicikan Sengkuni, Yudistira harus rela kehilangan kerajaannya, Amarta, karena dipertaruhkan dalam permainan dadu. Tak hanya kehilangan negaranya, namun Yudistira juga mempertaruhkan adik-adik dan istrinya bahkan dirinya sendiri ia pertaruhkan demi sebuah kehormatan dan harga diri. Akhirnya Pandawa harus kehilangan Amarta dan hidup di hutan sebagai orang-orang buangan.

Cerita diatas adalah sekelumit kisah tentang kelicikan Sengkuni. Para pembaca epos Mahabarata, terutama para pengagum Pandawa sudah pasti sangat membenci Sengkuni dan Kurawa dan akan mati-matian membela Yudistira dan adik-adiknya. Termasuk anda mungkin salah satunya.

Ada pepatah Jawa mengatakan “Sakputih-putihe uwong mesthi ana irenge, sakireng-irenge uwong mesthi ana putihe”. Artinya seputih-putihnya orang pasti ada sisi hitamnya, dan sehitam-hitamnya orang pasti ada sisi putihnya. Maknanya adalah sebaik-baiknya orang pasti ada buruknya, dan seburuk-buruknya orang pasti ada baiknya. Demikian halnya dangan Sengkuni dan Bala Kurawa-nya. Jadi jangan kaget kalau saya mengatakan Sengkuni dan Bala Kurawa yang pertama kali masuk surga dan Pandawa masuk neraka.

Saya tidak membela Sengkuni, namun tidak ada salahnya saya menyampaikan fakta yang melatarbelakangi kenapa Sengkuni bisa menjadi pribadi selicik itu.

Baiklah, mari melangkah lagi jauh kebelakang sebelum Para Pandawa dan Kurawa dilahirkan. Dari sinilah semuanya dimulai. Singkat cerita, Pandu berhasil memenangi sayembara di Negara Mandura setelah mengalahkan Raden Arasoma. Raden Gandara yang menjadi peserta terakhir serta merta protes dan meminta kesempatan untuk bertarung. Pandu menyetujui agar Gandara diberi kesempatan dengan syarat apabila Pandu menang, Gandara harus menyerahkan adiknya Gendari sebagai hadiah. Raden Gandara menyetujuinya dan sayembara kembali berlanjut.

Pertarungan antara Raden Pandu dan Raden Gandara berlangsung singkat, dan Pandu kembali memenangkan pertarungan. Dengan begitu Raden Pandu Dewanata berhak memboyong tiga putri sekaligus yaitu Dewi Kunti, Dewi Madrim dan Dewi Gendari. Raden Gandara atau kelak di kenal sebagai Patih Harya Sengkuni begitu mengidolakan Pandu dan merasa senang karena Pandu akan menikahi  Gendari,adiknya. Namun perkiraannya meleset. Pandu hanya menikahi Dewi Kunti dan Dewi Madrim, sementara Dewi Gendari dihadihkan pada kakaknya Prabu Destrarastra. Dalam hati  Sengkuni merasa sangat kecewa. 

Sahdan, Gendari harus menikah dengan kambing sebelum menikah dengan Destrarastra. Hal ini untuk menyiasati ketidak cocokan ramalan weton. Dan setelah menikah dengan kambing, kambing tersebut dibunuh.

Mengetahui bahwa Gendari adalah janda kambing, Destrarastra sangat marah dan memenjarakan 101 keluarga Gendari termasuk didalamnya kedua orang tuanya, juga Sengkuni. Inilah awal mula karakter Sengkuni terbentuk.

Rasa sakit hati Sengkuni bermula dari sini. Di dalam penjara, masing-masing keluarga Sengkuni hanya diberi sebutir nasi setiap hari. Jadi bagaimana keluarga ini bisa bertahan hidup ? Belum lagi penyiksaan-penyiksaan yang lain. Embrio dendam Sengkuni tumbuh di sini. Kezaliman penguasa Astina terutama atas pemaksaan pernikahan Gendari dengan Destrarastra membuat seorang Sengkuni yang dikenal cerdik berubah menjadi penuh niatan-niatan licik untuk membalas dendam. Cerdik yang dibalut kebencian, maka kelicikan lah yang muncul.

Seluruh keluarga Sengkuni berunding didalam penjara. Dari seratus satu orang harus ada satu orang yang bertahan hidup demi menegakkan harga diri dan kehormatan keluarga. Maka dipilihlah Sengkuni, karena selain menjadi anak tertua keluarga itu, Sengkuni juga memiliki kecerdasan diatas saudara-saudaranya yang lain. Dihari- hari selanjutnya mereka merelakan sebutir nasi jatahnya diberikan kepada Sengkuni. Mereka juga merestui Sengkuni menjadi kanibal, dengan memakan tubuh mereka demi Sengkuni bisa bertahan hidup. Inilah mungkin yang membuat Sengkuni menjadi sosok yang jahat. Kejahatan yang lahir akibat dari ketidakadilan yang ada pada dirinya dan seluruh keluarganya.

Setelah keluar dari penjara, Sengkuni mulai melakukan perannya sebagai pembalas dendam keluarganya. Dia mencari cara agar bisa masuk  di lingkungan Istana Astina. Atas kelihaiannya berbicara, akhirnya dia mendapat kesempatan menjadi guru dan mendidik Bala Kurawa yang notabene adalah keponakan-keponakannya sendiri. Sengkuni berhasil menjalankan perannya dengan sangat baik. Dan yang terpenting adalah Sengkuni berhasil membuat Bala Kurawa selalu dalam arahan dan pengaruhnya.

Singkat cerita, Sengkuni berhasil melakukan pendekatan terhadap para Kurawa dan Prabu Destrarastra, dia menjadi orang penting dalam setiap pengambilan keputusan kerajaan. Bahkan Resi Bisma pun sering kalah saat beradu argumen dengannya. Dan mulailah Sengkuni menjalankan satu persatu aksi balas dendamnya. Hingga sampai pada beberapa momentum terusirnya Pandawa dan Kunti dari Astina, hingga terbaginya Astina menjadi dua, kemudian pengusiran Pandawa dari Amarta. Semua peristiwa itu terlahir dari otak Sengkuni yang sudah dipenuhi kebencian dan balas dendam.

Jika kita renungkan dan kita lihat jauh kedalam, tentang awal mula kejahatan Sengkuni, tentu kita bisa memberi sebuah  pemakluman atas semua tindakannya. Anda setuju kalau saya katakan bahwa kejahatan Sengkuni tidak lahir begitu saja. Namun kejahatan itu lahir dari kezaliman dan kebiadaban yang luar biasa dari penguasa Astina terhadap dia dan keluarganya. Ia merangkai kembali hatinya yang sudah hancur lebur akibat trauma saat dipenjara dengan merangkainya menjadi siasat-siasat yang rapi untuk menghancurkan peninggalan Abyasa. 

Menurut saya,itulah Sengkuni dengan segala kontroversinya. Dia juga bisa menjadi simbol kecerdikan, kepandaian , terampil dan mempunyai daya tarik, sehingga mudah mendapat simpati, kepercayaan dan gampang merekrut orang.

 

Tentang penulis : Pandu Nusantara adalah Budayawan sekaligus penasehat Paguyuban Warga Asal Blora (PWAB) yang ada di Kota Balikpapan.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.

 

  • Bagikan