fbpx

MENGENAL MAS MARCO KARTODIKROMO DARI CEPU (1890-1935)

  • Bagikan
MAS MARCO KARTODIKROMO dari Cepu
foto Mas marco dan Istri : Mas Marco Kartodikromo merupakan salah satu wartawan kiri kelahiran Cepu, Kabupaten Blora

Cepu (22.06.2016) Mas Marco Kartodikromo merupakan salah satu jurnalis berpengaruh pada masa pergerakan nasional (1928-1945). Konsistensinya pada wacana sosialis-komunis membuat penjara menjadi tempat yang akrab baginya. Namun, alih-alih menumpulkannya, penjara malah membuat sang jurnalis kiri ini menjadi semakin tajam dalam setiap tulisannya.

 

MAS MARCO KARTODIKROMO dari Cepu
Foto Mas marco dan Istri : Mas Marco Kartodikromo merupakan salah satu wartawan kiri kelahiran Cepu, Kabupaten Blora

 

Marco Kartodikromo lahir pada tahun 1890 di Cepu. Sebelum berkiprah di dunia jurnalistik, Marco bekerja di Maskapai Kereta Api Hindia Belanda. Selama bekerja di Maskapai Kereta Api, Marco dan para pekerja pribumi lainnya selalu diperlakukan tidak adil. Kesenjangan upah yang tajam antara pekerja pribumi dan pegawai Belanda menumbuhkan jiwa perlawanan Marco muda. Akhirnya, pada 1911 Marco memutuskan keluar dari Maskapai Kereta Api tersebut.

Tidak lama setelah keluar dari Maskapai Kereta Api Hindia-Belanda, Marco memulai aktivitas jurnalis di surat kabar populer saat itu, Medan Prijaji pimpinan Tirto Adhi Soerjo. Medan Prijaji merupakan surat kabar pribumi yang banyak melontarkan kritik pedas kepada pemerintah kolonial kala itu. Akibatnya pada tahun 1912 Medan Prijaji pun ditutup pemerintah kolonial, satu tahun setelah Marco bergabung.

Ditutupnya Medan Prijaji tidak membuat perlawanan media menjadi berhenti. Para jurlnalis lokal pun bergabung dalam sebuah organisasi wartawan pribumi Hindia-Belanda, Indlansche Journalisten Bond. Dalam aktivitas pergerakan ini, Marco mengambil peran sebagai pemimpin Majalah Doenia Bergerak.

Doenia Bergerak merupakan majalah kiri yang menjadi corong bagi tulisan – tulisan wartawan kiri kala itu. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Darnakoesoemo menjadi motor ideologis koran tersebut. Langkah pertama Doenia Bergerak pimpinan Marco adalah menerbitkan tiga volume majalah yang berisi tulisan-tulisan Mata Gelap (penulis misterius) .

Akibatnya, Doenia Bergerak harus bersitegang dengan jurnalis-jurnalis etnis tionghoa yang menganggap bahwa artikel-artikel Doenia Bergerak cenderung rasis. Pada 26 Januari 1915, Marco diselidiki kantor kehakiman Hindia-Belanda atas tulisannya yang beraroma anti-belanda, Khususnya tulisannya tentang kritik terhadap RA. Rinkes yang seorang penasehat pemerintahan Hindia-Belanda.Tidak berapa lama, Marco pun ditangkap dan dipenjara di Mlaten, kabupaten Semarang.

Editor    : AM. Fawaidy

Foto      : www.http://batamtoday.com/

  • Bagikan