Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

MISTERI KEMATIAN MAYAT DALAM KARUNG, SAKSI: DIA MENINGGAL USAI DIPUKULI BERAMAI-RAMAI!

Blora- Mayat pria dalam karung, Deni Triatama (16) warga Kelurahan Jepon RT 06 RW 02 Kecamatan Jepon Kabupaten Blora telah dimakamkan pada Jum’at (12/07) malam. Meski demikian, misteri kematian remaja yang belum memiliki KTP ini sempat menyulitkan aparat.

 

https://www.bloranews.com/menguak-identitas-mayat-pria-dalam-karung/

Ilustrasi

 

Saat dilakukan pemeriksaan, diketahui pada jasad pria ini ditemukan sejumlah luka. Kuat dugaan, mayat pria yang dibungkus karung dan dibuang ke dalam hutan Randublatung ini merupakan korban pembunuhan.

Sehari usai pemakaman mendiang Deni, sejumlah awak media berkesempatan mewawancarai salah satu saksi kunci peristiwa kematian tragis ini. Menurut keterangannya, Deni Triatama dipukuli beramai-ramai. Meski, saksi belum secara jelas mengatakan alasan pengeroyokan Deni.

 

Baca: MENGUAK IDENTITAS MAYAT PRIA DALAM KARUNG

 

Sebut saja Ucil (15), bukan nama sebenarnya. Ucil bersama-sama dengan Deni sejak hari Senin (08/07) siang. Rencananya, Ucil dan Deni hendak menonton sebuah pertandingan bola di Sleman. Keduanya sempat nongkrong beberapa saat di kawasan Blok S Jepon.

“Kemudian, kita (Ucil dan Deni) lewat telpon diajak teman membuat tato di Randublatung. Kita pun mau,” kata Ucil di depan awak media, Sabtu (13/07).

Lebih lanjut, Ucil memastikan Deni bukanlah anggota komunitas punk, seperti selama ini yang telah ramai dibicarakan. Meski secara penampilan, gaya Deni menyerupai punk, yakni bergaya rambut mohawk serta berkaos band punk.

“Dia (Deni) sama seperti saya,” kata Ucil yang belakangan mengaku bonek (anak jalanan) ini. Istilah bonek dalam pemahaman Ucil tidak mengacu pada komunitas supporter resmi klub bola tertentu, melainkan hanya singkatan bondo nekat, alias anak jalanan.

Ucil melanjutkan ceritanya, sesampainya di Randublatung, mereka tidak segera membuat tato lantaran tinta habis. Mereka lantas minum-minum (mabuk) dan berpindah dari lokasi pos ronda ke lokasi lain di areal persawahan, dan akhirnya terjadilah petaka pada Selasa (09/07) dini hari tu.

“Pemukulannya berlangsung cukup lama. Sempat berhenti juga. Terus dipukuli lagi. Ada 5 orang. Saya diminta ikut pukul korban, tapi tidak mau. Karena tidak tega melihatnya, wajah saya tak tutupi kaos,” akunya.

Saat pagi menjelang, karena diperiksa nafasnya sudah tidak ada, korban lalu dibawa ke sebuah warung yang berada di dekat Hutan Kota Randublatung. Dari TKP, mayat dibawa dengan cara bonceng tiga (telon) diletakkan di tengah dengan diapit dua orang.

“Sesampainya di warung, korban ditidurkan di bangku depan warung. Pas kita sarapan juga di dekatnya (mayat). Setelah sarapan, dua orang mengurusi (membuang) mayatnya dengan pinjam sepedamotorku. Ya, dibonceng bertiga lagi masuk jalan hutan. Jadi waktu itu mayat belum dikarungi. Saya tidak tahu kalau soal karung itu,” pungkasnya.

Usai wawancara, Ucil dijemput pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Hingga kini, aparat masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Keluarga korban juga sudah dimintai keterangan. Jenazah juga sudah diserahkan dan dimakamkan pihak keluarga. 

“Untuk penyebab pastinya belum tahu,” jelas Kapolres Blora AKBP Antonius Anang Tri Kuswindarto. (top)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan