fbpx

MORALITAS PALSU ADALAH SENJATA MUTAKHIR PEMERINTAH

  • Bagikan
MORALITAS PALSU ADALAH SENJATA MUTAKHIR PEMERINTAH
Mohammad Sodikhin Kasravi.

Rene Descartes (1596-1650) dalam karyanya Discourse on Method menyampaikan bahwa, “memiliki daya nalar yang baik tidaklah cukup; yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik. Orang-orang yang bernalar tinggi mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan, tetapi juga dapat melakukan hal-hal yang paling keji”. (hlm. 22-23)

Kalimat diatas benar adanya. Ketika kita coba kontekstualisasi dengan situasi yang terjadi diruang birokrasi, akan muncul pandangan bahwa; hampir semua pejabat distruktur pemerintahan memiliki daya nalar diatas rata-rata, namun apakah benar nalar tersebut teroperasikan dengan baik, faktanya kasus korupsi masih merajalela, konflik agraria belum terselesaikan dan penghisapan terhadap rakyat kian mapan. Yang nampak hanyalah kekejian dibalik tingginya penalaran.

Dan naasnya, kekejian itu hari ini telah diimprovisasi menjadi tindakan yang seolah-olah “Bermoral”. Banyak pejabat yang bertindak moralistis guna menutupi eksploitasi terhadap rakyat. Banyak pula yang bertindak murah hati demi membutakan rakyat dari persoalan pokoknya.

Sebagai contoh; dimomen panen raya tahun ini, banyak pejabat yang ikut serta merayakan panen disawah namun gagal dalam menyentuh substansi persoalan petani. 

Seolah-olah dengan tindakan moralistis pejabat turun kesawah dan ikut berpanas-panasan, petani coba diamnesiakan dari persoalan pokoknya, seperti; harga pupuk yang dijual diatas HET dan kemerosotan harga gabah yang signifikan. Alhasil, petani benar-benar terhegemoni oleh moralitas palsu dan melupakan persoalan pokoknya.

Dan dizaman yang serba hiruk pikuk, moralitas palsu ini telah menjadi senjata ampuh pemerintah. Moralitas palsu mampu menjauhkan rakyat dari persoalan pokoknya (rakyat kian buta akan realitas ketertindasan dirinya), mampu menormalisir keadaan (membentuk pandangan seolah semua baik-baik saja) dan mampu mendisiplinir massa (membentuk individu yang taat kekuasaan).

Dan jika konsep semacam itu masih direalisir pemerintah tanpa memikirkan secara sehat fitrah kemanusiaan, maka pemerintah tidak lebih dari seonggok manusia yang bisanya hanya menghabiskan oksigen dimuka bumi. 

 

Tentang penulis : Mohammad Sodikhin Kasravi. Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Blora, saat ini sedang konsen pada kaderisasi.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: Konten dilindungi!!