NYAMIN ITU SEDULURAN

Nyantri Atawa Nyamin

Blora bukanlah dikenal kota santri laiknya Kaliwungu Kendal atau Sarang. Bahkan kerap orang menyebut kota abangan. Pramoedia Ananta Toer, penulis besar asli Blora, dalam sebuah novelnya menyebut Blora sebagai kota pensiunan. Di Blora pesantren tidak berpinak-pinak laiknya kota santri. Pesantren memang sudah ada sedari dulu,–yang tertua mungkin salah satunya Pesantren Talok di Ngawen–dan kini tengah tumbuh. Suasana kotanyapun tak terlihat ‘nyantri’  dengan penampakan lalulang santri yang bersarung dan membawa kitab kuning untuk mengaji sorogan atau bendongan. Istilah ‘nyantri’ disini dimaksud santri dari pesantren tradisional yang dulunya diejek orang sarungan, klompenan, kumuh atau julukan sarkastis lainnya. Jadi beda dengan mereka yang berbekal militan keagamaan dan berasal dari jalur pendidikan moderen.

Dulu pernah terjadi gesekan antara yang nyantri dan yang abangan. Ini dipicu oleh gegeran PKI dimana Blora menjadi salah satu medan pertarungan yang diperhitungkan. Sampai-sampai Jendral Sarwo Edi datang ke Blora. Tapi perlu diingat, gesekan ini lantaran lebih karena ‘politik’  bukan budaya. Kala itu, dikubu santri muncul kiai-kiai yang memobilisasi perlawanan terhadap PKI. KH Ihsan Fadhil misalnya, dikenal kiai ahli gemblengan garda depan. Dengan ilmu kekebalan itu, Mbah Ihsan menggembleng umat Islam Blora dan sekitarnya hingga Magelang agar otot kawat balung wesi siap tanding melawan PKI. Di kubu PKI, ada Mbah Suronginggil yang punya ilmu kanuragan sakti mandraguna. Dua tokoh ini menjadi khazanah Blora yang mewakili dua kubu berbeda haluan, satu kubu santri dan satu kubu abangan.

Gesekan itu memang sedikit banyak menghablurkan pengaruh terjadinya polarisasi yang cukup tajam antara santri dan abangan. Abangan ini termasuk masyarakat Samin. Dikhotomi ‘santri, abangan dan priyayi’ seperti temuan antropolog Clifford Geerz tampaknya lumayan berasa di Blora. Bagi masyarakat santri, pengajian akbar maupun kegiatan keagamaan lainnya sangat ditonjolkan. Sementara, masyarakat abangan lebih menggebyar dengan seni budaya seperti tari ledhek, tayub, barongan dan lainnya.

Namun, gesekan itu cepat berlalu. Lambat laun semakin mencair. Kaum santri justru yang terdepan melakukan proses pencairan dan lalu melakukan kolaborasi dengan masyarakat abangan termasuk Samin. Dan kini, kita lihat hubungan semakin renyah nan syahdu. Para santri justru yang mandegani kegiatan budaya bersama dengan masyarakat adat Blora seperti Samin. Dan juga mereka sering menginisiasi perkumpulan antar agama untuk menjaga toleransi. Kegiatan “Napak Tilas Samin” yang akan digelar di Blora, terbukti digerakkan oleh sosok santri diantaranya Kang Dalhar Muhammadun.

Budaya ‘nyantri’  dan ‘nyamin’  sejatinya tak jauh-jauh beda. Ada ‘titik temu’ yang begitu terpahat diantara keduanya. Budaya saling menghormati, anjangsana, seduluran, keramahan, menghormati yang tua, anti kekerasan dan toleransi adalah contoh segebung sikap yang tertanam diantara kedua kultur tersebut.

Kaum santri melalui langgar, madrasah dan pesantren telah mewariskan nilai-nilai kesahajaan dan keluhuran pekerti. Komunitas Samin dengan sanggar dan adat istiadatnya telah mewariskan nilai-nilai adiluhung. Hulunya adalah sama-sama membangun marwah kedirian yang membekali individu sebuah pegangan dalam menapaki lika-liku hidup. Nilai-nilai lokal ini sangat penting dan saat ini tengah menjadi buruan kembali  dengan mengedepankan masyarakat yang multikultural. Pas apa yang lagi digaungkan lewat ‘revolusi mental’ di negeri ini.  Indonesia yang berbineka jelas sudah mempunyai pendaman khazanah nilai-nilai lokal sehingga tinggal merevitalisasi untuk menjadi kekuatan berharga demi membangun keindonesiaan yang berbudaya.

Namun,  Blora kini sedang beriak. Ketenteraman Blora pernah agak terganggu oleh penangkapan Muhammad Nur Sholihin, pelaku tindak pidana terorisme. Lelaki asal desa Menden, Cepu ini setelah hijrah ke Solo terasupi paham radikal. Hingga suatu waktu dia masuk jaringan radikal dan menikahi Dian Novita Sari, wanita yang dulunya bekerja TKW di Hongkong. Setelah menikah, Nur Sholihin mendoktrin istrinya untuk melakukan amaliyat. Berhasil, akhirnya istrinya dengan menenteng bom hendak melakukan bom bunih diri di Jakarta, tepatnya di kantor kepresidenan. Naas, dia tertangkap duluan. Sekarang suami-istri ini dijebloskan di penjaran. 

Cerita giris ini juga menyingkapkan fakta di Blora tengah tumbuh kembang kelompok-kelompok pengasong paham radikal. Mereka ini adalah ‘anak-anak idiologis’  gerakan transnasional. Mereka dengan jalan mengendap atau terang-terangan gigih mewacanakan serta menggerakkan simpatisannya untuk berjihad menegakkan ‘panji langit’  untuk dirudapaksakan di bumi yang berbineka ini. Belum lagi, mulai memekarnya kelompok-kelompok puritan yang menancapkan pengaruhnya. Kehadiran mereka beberapakali menimbulkan kegaduhan dengan masyarakat sekitar yang memegang adat istiadat dan budaya lokal Blora.

Bangkitnya militansi keagamaan yang menyerbu di negeri ini tetanda bahwa ada yang tak beres dalam pemahaman tentang keindonesiaan. Nilai-nilai keindonesiaan yang sudah menjadi kesepakatan, kini mendapat tantangan keras dari mereka yang mendaku sebagai penyebar nilai-nilai keagamaan nomor wahid kebenarannya. Indonesia yang kaya tradisi dan budaya mendadak harus mendapat tamparan dengan tudingan kesyirikan, kebid’ahan atau thoghut. Tentu, kita tak ingin seperti yang terjadi di Mesir, ketika Jamaah Jihad wal Takfir melakukan pemboman terhadap situs-situs purbakala Mesir. Atau pemboman masjid karena tudingan jamaah masjid itu melakukan praktik sufi yang bagi mereka suatu kesyirikan. Dan dari sebuah kota kecil seperti Blora, gerakan yang anti budaya lokal termasuk nilai-nilai Samin sudah mulai kawin mawin.

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.