NYAMIN ITU SEDULURAN

Jangan Cemari Kami! 

Blora identik dengan adem tentrem. Kemajuan kota yang tengah bertalu-talu digerakkan di kota-kota lain, tak ngaruh pada Blora. Jangan salah, ini bukan berarti masyarakat Blora anti kemajuan. Namun ini justru resistensi yang berdasar kearifan lokal. Dan sikap ini rasanya taklepas jauh dari pengaruh kearifan lokal Samin. Bagi saya, ini kebanggaan. Saya sejak dulu mendambakan Blora yang berdiri tegak dengan nilai-nilai budaya lokal Blora yang ‘Mataram sentris’.  Blora harus tetap menjaga harkat budayanya. Jangan bangun blora dengan gemerlap, dengan membangun icon kemajuan lazimnya. Bangunlah Blora tetirah-tetirah budaya yang membuka ‘aura’ kelokalannya. Jangan perbanyak pabrik, tapi bangun sentra ekonomi kerakyatan.  Jangan bangun mal, tapi bangun sarana literasi. Jangan bangun gedung perkantoran yang mewah, tapi bangun sekolah yang wah. Jangan bangun tempat hiburan murahan, tapi bangun sanggar-sanggar kebudayaan.

Bukankah kemajuan yang menderas pada sebuah kota bisa merengsek kota menjadi ‘anonim’. Masyarakatnya saling tak tegur sapa, lantaran kesibukan atau kemeriahan kota yang membuat pribadi terlahap kerumunan. Dan tragisnya, keserakahan atas nama modernitas bisa menggusur segala yang berbau kebudayaan lokal.

Penghormatan terhadap nilai-nilai Samin berarti pelestarian budaya lokal Blora. Ini sudah merupakan keniscayaan ditengah gempuran modernitas, globalisasi dan budaya transnasional. Akankah kita tinggal diam bersedeku dan kelak anak cucu kita hanya menjadi korban tergilas oleh keganasan zaman, lalu hanya bisa termehek-mehek. Generasi milineal Blora jangan sampai ‘lupa daratan’ menanggalkan kelokalan dan memuja kemoderenan.  Dan ingat, ada ancaman lain yang terus mengintai, yaitu kekalapan beragama yang bisa menghancurkan khazanah budaya keindonesiaan.  Ikhtiar memperteguh ‘budaya Nyamin’ bisa menjadi  ‘daya tangkal’  terhadap ekstrimisme produk imporan.

Nah, perhelatan “Napak Tilas Samin” diharapkan nantinya menjadi ‘hijrah’ untuk merekahkan spiritualitas dan fajar kesadaran baru terhadap tata nilai lokal. Tapak jejak Samin Surosentiko dalam  perjuangannya melawan kejumawaan yang disikapi dengan anti kekerasan dan seduluran, sungguh merupakan teladan tiada terperi yang dibutuhkan negara kita untuk membangun masyarakat yang berperadaban. Semoga

Penulis hanyalah seorang Marbot Lembaga Daulat Bangsa (LDB) dan Rumah Daulat Buku (Rudalku), Komunitas Literasi untuk eksnapiter

 

*Opini di atas adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.