fbpx

PEMBUATAN TALUD TIDAK MERATA, LAHAN PETANI KEBANJIRAN DAN TERANCAM GAGAL PANEN

Curah hujan tinggi sepekan terakhir mengakibatkan lahan petani di Kabupaten Blora kebanjiran. Hal inipun membuat petani resah lantaran khawatir gagal panen dan merugi. Seperti halnya yang dikeluhkan karsito (53) warga Kelurahan Beran, dan Sitarji (58) warga Kelurahan Mlangsen.
Lahan sawah kebanjiran.

Blora, BLORANEWS – Curah hujan tinggi sepekan terakhir mengakibatkan lahan petani di Kabupaten Blora kebanjiran. Hal inipun membuat petani resah lantaran khawatir gagal panen dan merugi. Seperti halnya yang dikeluhkan karsito (53) warga Kelurahan Beran, dan Sitarji (58) warga Kelurahan Mlangsen.

Dengan nada sendu Karsito memaparkan, lahan miliknya yang ditanami beberapa komoditas seperti jagung, labu dan sayur mayur terancam gagal panen akibat terendam air.

BACA JUGA :  PASOKAN BBM SUBSIDI UNTUK PETANI DAN NELAYAN KURANG

“Seluruh tanaman yang baru ditanam maupun udah lama ditanam bisa jadi gagal panen nantinya,” ucap Karsito.

Karsito menegaskan, banjir tersebut disebabkan oleh pembuatan talud dan saluran air yang tidak merata. Sehingga saat hujan dengan intensitas tinggi melanda, air dari saluran tersebut meluap dan membanjiri lahan.

“Karena talud atau pembuatan got pembuangan air tidak merata dan rendah dekat tanaman, air luapan dari selokan masuk ke dalam lahan dan menggenangi tanaman,” tegasnya.

BACA JUGA :  MERAUP LABA DENGAN BERTANI PEPAYA

Senada dengan Karsito, petani asal Kelurahan Mlangsen, Sutarji mengaku resah lantaran pembuatan talud tidak merata. Akibatnya lahan miliknya terendam air dan harus memanen sebagian tanamannya lebih awal.

“Ini kita panen yang masih umur sebulanan, sudah tidak bisa diselamatkan, karena jagung pasti akan membusuk, sebab jagung bukan tanaman yang membutuhkan banyak air,” ujarnya.

BACA JUGA :  DANRAMIL 04 TUNJUNGAN HADIRI PANEN CABE DI GEMPOLREJO

Sutarji meminta Pemerintah Kabupaten Blora  memberikan solusi agar ladang mereka tidak terkena banjir. Ia juga berharap adanya bantuan mengingat lahan tersebut merupakan sumber pendapatan satu-satunya.

“Kita minta dari pemerintah bagaimana caranya tahun- tahun yang akan datang kita bisa menanam lagi dan tak tergenang banjir lagi. Kalau rugi kita rugi modal jutaan ini,” tegasnya. (*)