REKRUT PULUHAN PEKERJA, BISNIS TUSUK SATE DI NGAWEN BERKEMBANG PESAT

Ngawen- Kegiatan produksi tusuk sate di Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora semakin berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Tak hanya mengejar untung, usaha berskala rumah tangga ini berhasil merekrut puluhan pekerja dan meningkatkan penghasilan warga.

 

Kegiatan produksi tusuk sate menggunakan mesin di Sido Mukti Tusuk Sate, Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora

Kegiatan produksi tusuk sate menggunakan mesin di Sido Mukti Tusuk Sate, Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora

 

“Sampai sekarang, ada 35 pekerja yang membuat tusuk sate. Kalau di tempat lain masih dengan cara tradisional, di tempat ini kita pakai mesin,” terang pemilik usaha tusuk sate Sido Mukti, Marjuanto (37) di lokasi produksi, Desa Talokwohmojo, Senin (30/09).

Lebih lanjut, Marjuanto mengungkapkan, usahanya tersebut bermula tahun 2016 lalu. Blora yang terkenal sebagai kota sate, sebenarnya telah memiliki sentra produksi tusuk sate yang produksinya masih dilakukan secara tradisional.

“Saya sebelumnya studi banding dulu ke Tulungagung dan Blitar sekitar tahun 2015. Kemudian, kita mulai memproduksi tusuk sate dengan peralatan modern. Selain hasil produksinya lebih banyak, kualitasnya juga seragam. Ini yang membuat produk kita laku keras di luar daerah,” imbuhnya.

Benar saja, produk tusuk sate Marjuanto berhasil menembus pasar di kawasan Rembang, Grobogan, dan beberapa kawasan di Blora. Akan tetapi, dirinya lebih memilih pasar di luar daerah supaya produk tusuk sate tradisional tetap laku.

 

Pemilik usaha tusuk sate Sido Mukti, Marjuanto (37)

Pemilik usaha tusuk sate Sido Mukti, Marjuanto (37)

 

“Kita milih pasar luar daerah saja, supaya yang tradisional juga tidak mati. Intinya sama-sama jalan. Kita bukan mengejar profit saja, kita juga ingin usaha ini semakin berkembang dan secara nyata meningkatkan penghasilan pekerja,” tambahnya.

Di musim kemarau seperti sekarang ini, ketika banyak petani meletakkan cangkul lantaran tidak ada air untuk menggarap sawah, bekerja sampingan membuat tusuk sate bisa menopang kebutuhan rumah tangga.

“Ya bisa dibilang ini kerja nyambi (sampingan), selagi libur dari kegiatan bertani. Tapi alhamdulillah cukup layak mas, untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk tiap kilo-nya, kita jual seharga Rp 10-15 ribu. Rata-rata tiap minggu kita jual sampai 4 kwintal,” tandasnya.

Dengan potensi yang cukup besar, di sisi keuntungannya dan banyaknya pekerja yang terlibat, Marjuanto berharap adanya perhatian dan dukungan dari Pemkab Blora. (jyk)    

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan