fbpx

ROMO SINDHUNATA: INI SAAATNYA PEMERINTAH BLORA MENEGAKKAN SAMIN

Blora, BLORANEWS – Gerakan Samin merupakan bagian dari pergerakan nasional. Saat terjadinya pemberontakan petani Jawa, termasuk di Blora, Tuban dan Pati, mereka menentang penjajah yang luar biasa. Saat itu pemerintah Belanda menekan rakyat luar biasa, mulai dari peraturan perhutanan, penyempitan tanah, hingga pembayaran pajak. Masyarakat Samin kemudian melakukan protes yang begitu dalam. Ajaran Samin bukan hanya perilaku tapi juga tuntutan dalam bersiap kritis. Ketika orang lain diam, Sedulur Sikep berani melakukan perlawanan, bersikap kritis atas ketidakadilan. Selama pemerintah Orde Baru, Samin itu ditekan sehingga mereka tercecer. Tugas pemerintah saat ini adalah menegakkan Samin. Ini merupakan utang pemerintah kepada gerakan Samin.

Hal tersebut disampaikan oleh Budayawan Romo Sindhunata dalam sarasehan bertema ‘Laku Sikep dan Relevansinya di Era Kekinian’ yang diselenggarakan pada Selasa, 9 Juli 2024 bertempat di Pendopo Kabupaten Blora. Lebih dari 200 orang hadir, diantaranya adalah perwakilan dari Balai Pelestarian Budaya (BPK) Jawa Tengah dan DIY, BPK Jawa Timur, sejumlah OPD Pemkab Blora, para pelajar, mahasiswa serta Sedulur Sikep dari beberapa wilayah. Gunretno, salah satu tokoh Sedulur Sikep tampak hadir diantaranya.

Sarasehan ini merupakan rangkaian acara Festival Budaya Spiritual yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat (Dit. KMA), Ditjen Kebudayaan, Kemdikbudristek bekerja sama dengan Pemkab Blora. Acara digelar selama tiga hari pada 8-10 Juli 2024.

Selain Sindhunata, dalam sarasehan tersebut hadir pula Direktur KMA Sjamsul Hadi sebagai pembicara kunci, dan Dr. Amrih Widodo, peneliti dan akademisi dari Australian National University (ANU), serta remaja Sedulur Sikep yakni Bagus Widianto dan Anggit Pratiwi.

Dalam kesempatan tersebut Sjamsul Hadi menyampaikan bahwa dengan sarasehan ini Sedulur Sikep sebagai masyarakat adat perlu mendapat perhatian.

“Banyak ajaran Sedulur Sikep tentang kasih sayang, yang harus terus di-uri-uri. Perjuangan Mbah Samin dikenal dengan sikap diamnya melawan penjajah. Sedulur Sikep sebagai masyarakat adat perlu mendapat perhatian. Terlebih dengan dinamika perubahan iklim dan konflik sosial, ajaran Samin yang diyakini Sedulur Sikep ini menjadi sangat relevan,” ujar Sjamsul.

Ia juga menyampaikan pengalamanya ketika berkunjung bersama tokoh Sedulur Sikep Gunretno di beberapa desa di Kudus, Pati dan Blora.

“Saya mendengar harapan dari Sedulur Sikep berkaitan dengan kehadiran pemerintah. Mereka sampaikan dengan menep atau berdoa. Kiranya pemerintah dapat hadir. Pemerintah melalui Program Indonesiana sudah hadir tahun lalu dan dan tahun ini mendorong eksistensi Sedulur Sikep yang tersebar di 6 kabupaten. Kita harapkan ada rumusan dan rencana ke depan. Agar para Sedulur Sikep mendapatkan pemenuhan hak sipilnya. Kami hadir dan selalu mendorong karena ini memenuhi amanat konstitusi UUD 45,” ungkapnya.

Sementara itu, Romo Sindhu, yang sejak lama membincang Sedulur Samin sebagai suatu gerakan mesianik masyarakat Jawa dalam narasi besar Ratu Adil, mengungkapkan bahwa spirit Samin patut dilestarikan. Tanpa adanya penghargaan atas kearifan lokal yang konsisten dan kuat, tidak mungkin masyarakat Samin berani memberontak begitu keras.

“Jangan sia-siakan mereka ini. Ketika yang lain diam, mereka memberontak. Saya mengomentari para Samin muda untuk tetap kukuh pada pertanian. Saya rasa ini sebagai sikap kritis juga. Sebagai perlawanan terhadap arus modal. Inilah nilai Samin yang masih relevan untuk saat ini,” tambahnya.

Ia menyebutkan bahwa sumbangan terbesar lainnya dari Sedulur Sikep adalah kesanggupan untuk menjunjung tinggi toleransi.

“Apakah ajaran Samin masih relevan? Sangat relevan. Pemerintah harus mengambil sikap untuk mendukung keberadaan masyarakat Samin. Ini saaatnya pemerintah Blora menegakkan Samin. Di tengah tekanan kapitalisme, tekanan kebenaran atas nama agama, gerakan Samin patut kita perjuangkan untuk bangsa dan negara. Tidak hanya demi masyarakat Blora,” tandasnya.

Lebih lanjut ia mencontohkan bagaimana perjuangan Sedulur Sikep melawan pabrik semen.

“Di Jawa semua didatangi industri pabrik semen. Di Blora, Pati, Rembang sejak 2006 hingga sekarang gerakan anti semen jalan terus dan untuk pertama kali gerakan Samin jadi bagian dari gerakan masyarakat sipil,” sambungnya.

Hadir sebagai perwakilan remaja Sedulur Sikep adalah Bagus Widianto dan Anggit Pratiwi. Menyampaikan dalam bahasa Jawa, Anggit Pratiwi, yang tampil dengan kebaya warna hitam dan jarik senada, menyatakan bahwa sebagai remaja Sedulur Sikep ia tidak mengenyam sekolah formal, karena menurutnya, bagi Sedulur Sikep belajar adalah di mana saja.

“Saya belajar di rumah, oleh bapak ibu diajari bertani. Kenapa Bertani? Kalau semua mau jadi pegawai, siapa yang mencukupi kebutuhan pangan? Adanya pangan ya karena bertani. Oleh karena itu Sedulur Sikep jadi petani supaya imbang, ada yang jadi pegawai dan ada petani,” papar Anggit.

Ia menambahkan bahwa tanpa sekolah formal, tidak berarti ia tidak bisa menulis atau menghitung, Mereka diajari oleh orang tuanya. Selain itu, ungkap Anggit ia belajar gamelan dan tembang tiap Jumat sore di Sanggar Wiji Kendeng.

“Bagi Sedulur Sikep, kenapa lingungan harus dijaga? Merawat kehidupan adalah memelihara bumi yang telah menghidupi kita. Itulah wujud cinta Sedulur Sikep,” tambahnya.

Sementara itu Bagus Widianto juga mengisahkan hal yang serupa. ,“Saya membantu bapak dan ibu bertani dan saya punya hobi main musik. Tapi tidak lupa tanggung jawab jadi petani,” jelasnya.

Tampil sebagai pembicara terakhir, Amrih Widodo, yang memberikan paparannya secara daring dari tempat tinggalnya di Canberra Australia, menyebutkan selama 30 tahun ini meneliti Samin, perlu melihat apa yang penting di dalam keberadaan Samin sehingga tetap bisa ada.

“Kalau kita mau melihat spiritualis Samin, kita harus melihat bagaimana cara orang Sedulur Sikep merespons terhadap kekuasaan. Kalau kita hanya ingin melihat mereka sebagai perlaku yang khusus, eksostis, itu akan mirip dengan yang dikerjakan peneliti Orde Baru yang ingin menyingkirkan unsur politik dari Gerakan Samin. Bagaimana orang Samin ini menghadapi kekuasaan, ini menjadi hilang,” ujarnya.

Dr. Amrih Widodo sendiri telah melakukan penelitian tentang Samin, salah satunya diterbitkan dalam buku Samin In The Order: The Politics of Encounter and Isolation menyebutkan bahwa melihat perkembangan Blora sebagai asal-usul Samin ada perkembangan besar antara dulu sampai 2024.

“Selama 30 tahun ini saya juga pengalaman yang sama sehingga melihat Samin sebagai sesuatu yang dilestarikan karena ada yang abadi di sana. Melihat apa yang penting di dalam keberadaan Samin sehingga selalu bisa tetap ada. Kita perlu melihat Samininime 1888 yang dengan ciri khas Gerakan Samin yang anti kekerasan. Ini yang bikin pemerintah Belanda ketakutan,” ungkapnya.

Gunretno tidak memungkiri masih adanya stigma negatif terhadap Sedulur Sikep. Oleh sebab itu, ia berpesan kepada remaja Sedulur Sikep untuk tidak ragu menjelaskan kepada orang lain.

“Kalau tidak dijelaskan, tidak paham. Anak putu Mbah Samin itu wong Sikep. Sedulur sikep kudu niteni pituture Mbah Samin. Anak cucu Mbah Samin itu harus punya kepekaan terutama masalah ketidakadilan. Jangan diam kalau ada tindakan serakah,” ungkap Gunretno.

Terkait dengan penerimaan dan pengakuan pemerintah, ia menyebutkan bahwa sekarang pun sudah diundang, itu sebagai wujud pengakuan.

“Sekarang, aku diundang Pak Sjamsul ke sini. Hanya usulanku, beri porsi yang sama. Jangan hanya Randublatung, Sambong, Klopoduwur saja yang diundang. Sedulur Sikep ada 23 titik,” tambahnya.

Dalam sarasehan tersebut, dicatat sejumlah rekomendasi. Diantaranya bahwa semua pihak setuju jika nilai-nilai ajaran Sedulur Sikep relevan dengan zaman ini; telah adanya langkah konkrit perubahan sikap dan keterbukaan dari pemerintah Blora atas keberadaan dan praktik spiritual masyarakat Samin, sehingga yang masih diperlukan adalah adanya diseminasi untuk mengurangi adanya persepsi buruk terhadap Sedulur Sikep; serta bahwa pemerintah harus memberikan ruang toleransi dan bagaimana negara dan pemerintah memberikan pemenuhan hak-hak sipil masyarakat Sedulur Sikep.

Rangkaian acara ini akan dilanjutkan dengan Rembug Samin ‘Ngukuhi Wonge, Nutugne Babadane,’ di Pendopo Pengayoman Ploso Kediren, Kecamatan Rand, sedulur sublatung, Blora, pada Rabu, 10 Juli 2024. (Dj)