fbpx

SAMIN SUROSENTIKO (1859-1930) : DARI KEKALAHAN MENUJU PENINDASAN

samin surosentiko sikep blora
Dalam perjalanannya, pergerakan pengikut samin kerap menghadapi hambatan bahkan dari rezim penguasa saat itu
samin surosentiko sikep blora
Dalam perjalanannya, pergerakan pengikut samin kerap menghadapi hambatan bahkan dari rezim penguasa saat itu

Ploso-Kediren (04.07.2016) Berjuang demi kebenaran memang tidak mudah. Hal yang sama dirasakan oleh para pengikut Samin Surosentiko di awal abad XX. Tahun 1912, beberapa pengikut Samin Surosentiko berusaha menyebarkan ajaran mulia tersebut di daerah Jatirogo-Tuban, namun usaha ini gagal.

Perjuangan yang sama, penyebaran ajaran Samin Surosentiko di Jatirogo-Tuban kembali dilakukan di tahun 1915, namun usaha kedua ini pun berakhir tanpa membawa hasil.

Satu tahun kemudian, tahun 1916 para pengikut Samin Surosentiko menyebarkan ajaran ke Undaan-Kudus. Tahun 1917 Mbah Engkrek, salah satu pengikut Samin Surosentiko di Blora memimpin gerakan mogok kerja massal. Pemerintah kolonial menganggap gerakan Mbah Engkrek ini sebagai gerakan pratikel pasif.

Seperti respon pemerintah kolonial terhadap gerakan-gerakan perlawanan pribumi lainnya, para pengikut Samin Surosentiko ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1930, para pengikut Samin Surosentiko memilih tiarap dan melakukan perlawanan bawah tanah. Beberapa pihak, pemerintah kolonial dan para borjuis pribumi menganggap bahwa tahun 1930 adalah tahun tenggelamnya gerakan para pengikut Samin Surosentiko.

Namun perkiraan pemerintah kolonial ini salah. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan gerakan pengikut Samin Surosentiko kembali bangkit. Perjuangan mengisi kemerdekaan pun dilakukan oleh para pengikut Samin Surosentiko dengan menyebarkan rasa cinta tanah air kepada warga negara di republik yang baru lahir ini.

Sayangnya pada saat rezim orde baru berkuasa, ajaran pluralitas Samin Surosentiko diidentikkan dengan gerakan komunisme sehingga mendapatkan stigma negatif dari pemerintah. Tahun 1985, Bupati Blora H. Sumarno SH melarang pelaksanaan upacara adat Samin dan melarang kegiatan yang berkaitan dengannya. Akibatnya selama hampir dua puluh tahun warga Blora mengenal Samin sebagai suku terbelakang yang identik dengan komunisme.

Baru pada tahun 2005, diinspirasi oleh gerakan intelektual dan para penggiat seni mulai hidup kembali setelah mati suri. Berbagai hal tentang Samin pun mulai mendapat tempat di hati para warga Blora. Bukti penerimaan warga Blora terhadap Samin dan berbagai ajarannya adalah penggunaan atribut Samin sebagai seragam wajib pegawai kantor pemerintahan Kabupaten Blora dalam hari-hari tertentu, bahkan suporter Persikaba Blora bangga dengan nama Saminista.

Editor : Ismu Ngatono 

Foto   : Bloranews

Sumber : Budaya dan Perilaku Masyarakat Penganut Saminisme oleh Huzer Apriansyah (FISIP UNSOED/2005)

BACA JUGA