fbpx

SEHARI, PRODUKSI SAMPAH BLORA MENCAPAI 354,8 TON

Sampah
Sampah

Menurut Didik, sekitar 60 hingga 70 persen dari sampah tersebut, merupakan sampah organik. Bencana dan berkah terkandung dalam jumlah yang luar biasa besar ini. Salah satu efek samping timbunan sampah ini adalah bau busuk yang menyengat.

“Saya konsultasi dengan Pak Zul (Zulkifli Yusuf, red), tentang bau sampah yang mengganggu ini. Dengan formula yang diciptakan Pak Zul, kitra mencoba mengurangi bau sampah. Sekarang, bau sampah yang ada tidak begitu menyengat,” lanjutnya.

BACA JUGA :  ALTERNATIF KELANGKAAN PUPUK, ROJO KOYO MANUNGGAL KENALKAN PUPUK ORGANIK

Tak hanya itu, DLH juga berinisiatif untuk mengelola sampah organik dengan mencacah dan mengayaknya. Sehingga, hasil akhirnya merupakan pupuk kompos yang bermanfaat untuk pertanian. Sayangnya, DLH Blora tidak memiliki alatnya.

Ngaji Pertanian di Ponpes Sabilurrosyad Mojowetan Banjarejo
Ngaji Pertanian di Ponpes Sabilurrosyad Mojowetan Banjarejo

 

“Lagi-lagi, kita minta bantuan Pak Zul. Kita pinjam alat pencacah sampah dan alat pengayaknya. Sekarang, banyak komunitas yang terlibat dalam aktivitas pengelolaan sampah ini,” imbuh Didik.

BACA JUGA :  GABUNG KLUB JEPANG, LAGI LAGI ARHAN BANGGAKAN BLORA

Terakhir, DLH Blora melalui bidang terkait tengah berinovasi dengan memanfaatkan sampah organik untuk mengembangkan Black Soldiers Fly, atau Tentara Lalat Hitam. Hewan kecil ini, dipercaya dapat mengurai 80 persen sampah organik dan memproduksi maggot (larva) untuk pakan unggas dan ikan.

 “Jujur, kita belum dapat mengkalkulasi perhitungan hasilnya. Tapi kita optimis, upaya ini akan membuahkan hasil yang baik,” pungkasnya.

BACA JUGA :  PEMBANGUNAN TPA TEMUREJO DIANGGARKAN 11,9 MILIAR DARI APBN 2021

Pertemuan petani organik ini juga dihadiri Wakil Bupati Blora, Arief Rohman dan didukung anggota DPRD Blora, Aliudin.

 Reporter : Imanan