SEMANTIK KATA “BENGEK” DAN “BOBROK” DI ERA KEKINIAN

  • Bagikan
SEMANTIK KATA “BENGEK” DAN “BOBROK” DI ERA KEKINIAN
Novitasari

Apa sih semantik itu? Secara sederhana, semantik adalah ilmu yang mengkaji tentang makna dari suatu kata atau bahasa, baik dalam wujud lisan maupun tulisan. Semantik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari karena manusia selalu melakukan komunikasi dengan manusia lain menggunakan alat yang tak lain adalah bahasa. Seiring perkembangan waktu, kata atau bahasa yang kita produksi, kata atau bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari akan semakin bertambah, bahkan makna kata pun dapat mengalami pergeseran bahkan perubahan total karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi. Dan ilmu semantik inilah yang mengkaji hal tersebut. 

 

SEMANTIK KATA “BENGEK” DAN “BOBROK” DI ERA KEKINIAN
Novitasari

 

Banyak sekali ahli yang mengkaji tentang ilmu semantik, salah satunya Abdul Chaer.  Beliau dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia” pada bab tujuh menyebutkan bahwa perubahan makna suatu kata dapat terjadi karena berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain perkembangan iptek, perkembangan sosbud, perbedaan bidang pemakaian, adanya asosiasi, pertukaran tanggapan indera, perbedaan tanggapan, adanya penyingkatan, proses gramatikal, dan juga pengembangan istilah.

Diantara beberapa faktor pendorong perubahan makna yang ada, salah satu faktor yang sangat memengaruhi perubahan makna kata atau bahasa pada era kekinian ini adalah faktor perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Di era generasi millennial atau yang akrab disebut sebagai generasi gadget ini banyak sekali menimbulkan perubahan atau pergeseran makna suatu kata atau bahasa dari makna awalnya. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena memang gadget yang sudah menjadi bagian hidup dari generasi ini, gadget is my life. Semakin hari teknologi semakin berkembang yang kemudian disadari atau tidak dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam berkehidupan, dan salah satunya dalam hal berbahasa.

Di era kekinian ini, apalagi dalam masa pandemi seperti ini yang mengharuskan kita untuk mengurung diri dan tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah, sebagian besar dari kita menjadikan media sosial sebagai tujuan utama untuk menghibur diri dikala penat melanda. Tetapi disadari atau tidak, perkembangan atau perubahan makna kata dapat terjadi melalui media sosial. Bagaimana bisa? Hal tersebut terjadi karena media sosial yang sangat mudah dijangkau oleh seluruh dunia dalam waktu sekejap saja menjadikan suatu berita atau konten atau apapun itu dapat diterima dengan cepat atau viral dimana-mana.  Seperti contoh halnya ketika ada seseorang yang mencetuskan kata baru atau memasukkan kata ke dalam konteks yang berbeda sehingga makna kata yang muncul pun berubah, kemudian hal tersebut menjadi viral di berbagai platform media sosial, dijangkau oleh banyak orang, dan akhirnya di pergunakanlah kata atau bahasa tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.  

Seperti yang lagi viral belakangan ini, banyak sekali kata yang mengalami pergeseran makna, diantaranya yaitu kata ‘bengek’ dan ‘bobrok’. Makna kedua kata tersebut mengalami pergeseran dari makna awal atau aslinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘bengek’ pada dasarnya memiliki makna penyakit sesak nafas (asthma bronchiale). Tetapi kemudian saat ini maknanya berubah menjadi suatu ungkapan kiasan yang bertujuan untuk mengekspresikan tawa. Ekspresi tawa yang digambarkan adalah ketika seseorang tersebut tertawa yang sangat lebar dan terbahak-bahak hingga tidak muncul suara, badan lemas, dan pernapasan menjadi sesak atau tidak stabil seperti halnya orang bengek. Hal tersebut yang menjadikan alasan mengapa kata ‘bengek’ digunakan atau diartikan sebagai ungkapan tawa. 

Biasanya kalau dalam penulisan, ekspresi tawa ‘bengek’ ini disertai dengan emoji ketawa miring yang ada air matanya bahkan tak jarang pula biasanya ditambah juga dengan emoji menangis karena terlalu ‘bengek’nya. Kata bengek juga sering digunakan sebagai julukan orang yang ketawanya dianggap ‘tidak normal’ karena terlalu terbahak-bahak, ‘si bengek’. Tak jarang pula di media sosial terutama di aplikasi tiktok kita jumpai orang yang menggunakan kata ‘bengek’ seperti “ketawa lu bengek banget sih”, “sampai bengek aku lihat video itu”, “bengek parah”, bahkan hingga menjadi nama goyangan ‘goyang bengek’ karena goyangan atau gerakannya yang lucu menjadikan orang yang melihat atau melakukan gerakannya ketawa sampai bengek. 

Hal tersebut menjadikan makna kata bengek tidak lagi penyakit sesak nafas, melainkan lebih menjurus ke suatu ungkapan yang mengekspresikan ketawa yang super ngakak.

Selain kata ‘bengek’, ada lagi kata yang tak kalah viral digunakan di dunia maya yaitu kata ‘bobrok’. 

Kata ‘bobrok’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti bejat atau rusak sama sekali. Awalnya kata ‘bobrok’ lebih sering digunakan untuk menyatakan keadaan suatu barang atau benda mati, misalnya rumah itu sudah bobrok yang berarti rumah itu sudah rusak dan tidak bisa dihuni lagi. Namun kini arti atau makna kata ‘bobrok’ tersebut mengalami pergeseran makna menjadi suatu ungkapan yang digunakan untuk menamai atau menjuluki orang yang bertingkah laku lucu, abnormal, kocak, konyol, minim rasa malu atau tebal muka. Kata bobrok ini juga sering  diartikan sebagai sinonim dari kata ‘gesrek’, ‘akhlakless’, dan juga ‘ga ada akhlak’.

Kata ‘bobrok’ seringkali kita temui di media sosial, namun kata bobrok dalam hal ini bukan artian yang menunjukkan seseorang yang memiliki sifat buruk, rusak, tidak karuan, atau apapun itu yang mengandung unsur negatif. Kata bobrok dalam hal ini tidak digunakan untuk menggambarkan seseorang yang pandai mencuri, pandai berbohong, ataupun perbuatan jelek lainnya. Tetapi kata ‘bobrok’ ini lebih digunakan sebagai ungkapan yang menyatakan seseorang tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tidak jaim, dan tidak malu ketika harus tampil di hadapan orang banyak dengan ekspresi muka jelek. Seperti contoh ungkapan “cantik-cantik bobrok banget sih lo!”, makna ungkapan tersebut bukan berarti cewek itu rusak pergaulannya, melainkan karena tidak jaim untuk bertingkah laku konyol padahal cewek itu memiliki paras wajah yang cantik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata ‘bengek’ dan ‘bobrok’ mengalami perubahan atau pergeseran makna yang disebabkan karena adanya perkembangan iptek yang terus menerus. Dengan adanya media sosial, perkembangan perubahan makna suatu kata dapat menyebar secara cepat di seluruh belahan dunia karena sifatnya yang sangat mudah dijangkau. Dan tentunya perubahan makna kata tersebut tidak jauh dan masih ada korelasinya dengan makna aslinya.  

 

Tentang penulis : Novitasari adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Malang.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan