fbpx

SEMAR DAN BLORA

  • Bagikan
SEMAR DAN BLORA
Ilustrasi

Bengawan Solo melintas wilayah Blora kurang lebih sejauh 60 Km. Jika kita mengikuti hulu Bengawan Solo, kita akan sampai ke ujung timur-selatan Kabupaten Blora, setelah Sentono Kradenan, ke daerah perbukitan yang sangat sepi yang ditutupi oleh hutan Jati yang luas. Ada dan masih sedikit sekali aktifitas sungai di wilayah berpenduduk jarang ini. Tapi di sini terdapat artefak Hindu-Jawa dan ditemukan bukti prasejarah; setelah sebelumnya hanya dalam jumlah yang tidak begitu signifikan – di sebelah timur desa Getas, dimana rimbawan Altona menemukan sisa-sisa pemukiman kuno dengan reruntuhan Makara bangunan “Gerbang Kamulan”-, kemudian terdapat temuan prasejarah termasuk yang paling penting bagi dunia. Di Ngandong, sebuah desa yang teretak di tepi kiri Bengawan Solo, kira-kira di tengah berlikunya aliran Bengawan menembus Pegunungan Kendeng Tengah, Dubois menemukan sebelas tengkorak fosil manusia purba Homo Javanensis.

Sehingga diyakini bahwa daerah ini (triangulasi yang dibentuk oleh Sungai Solo yang berkelok dari barat dan lalu ke utara setelah bergabung dengan Bengawan Madiun, dan oleh garis imajiner Trinil-Getas-Ngandong), telah menjadi tempat yang tepat dalam awal perjalanan sejarah ras manusia Jawa selama ini. 

Mengikuti aliran Bengawan ke arah hilir, di ujung paling timur Kabupaten Blora, akan juga ditemui triangulasi, saat Bengawan bertemu dengan sungai Kening. Sebuah sungai yang tak kalah penting karena berhulu di Pegunungan “Kubur Megalitikum” Kendeng Utara, namun juga tempat dimana A. Stoof terkejut dengan ditemukannya mineral minyak bumi yang muncul sendiri ke permukaan bumi.

Berbeda dengan citra ekonomi Jawa pada umumnya, yang di masa lalu pasti ditentukan oleh wong tani, atau sebagaimana mereka disebut dalam piagam Jawa Kuno: anak wanua. Maka sangat mengherankan bahwa dari 60 Km aliran air dari lereng gunung Lawu itu, terdapat 4 titik pelabuhan niaga sungai – di antara 2 titik triangulasi yang disebutkan –  yang diberikan hak-hak istimewa kerajaan Majapahit, tetapi tidak berkaitan dengan pertanian; dan berurusan dengan masalah non-pertanian.

Prasasti ini adalah piagam Trawulan, tertanggal 1280 Saka, yaitu 1358 M, suatu tindakan di mana Raja Sri Rajasanagara, lebih dikenal dengan nama Hayam Wuruk, dicatat untuk mendukung istimewanya “penumpang penyeberangan di seluruh pulau Jawa” (ikang anambangi sa-Yawadwipamandala). Sehingga dapat dikategorikan sebagai suaka sungai, “desa tepi sungai, benteng kapal penyeberangan” (naditira pradesa, sthananya ng anambangi). Maka sungguh luar biasa bagaimana para kepala desa-desa yang dianugerahi keistimewaan Raja, yang jauh dari kraton Majapahit, terlibat juga dalam keistimewaan para bandar dagang itu. 

Ketika Madjapahit akhirnya runtuh dan begitu pula dengan Bengawan Brantas beserta Hindu-Jawa di pedalaman Jawa Timur, kita akan mendengar pembicaraan tentang Bengawan Solo sebagai jalur utama perdagangan antara pedalaman Jawa Tengah menuju laut, dimana Jipang-Pasar, dilanjut Panolan, memegang peran utama ekonomisnya di Bengawan ini.

Meminjam keberadaan posisi Blora, sebagai wilayah pertengahan (antara pesisir dan pegunungan), yang kemudian disandingkan dengan karakteristik Semar, sebagai tokoh pertengahan dalam dunia pewayangan, sungguh luar biasa kita akan segera menemukan kesamaan rupa. Sufistik Jawa yang kental dengan pengkristalan simbol-simbol jagat dunia itu lalu mengibaratkan Semar memiliki cupu manik astagina – yang kekuatannya serupa kalpawreksa atau pohon kehidupan – di ujung rambut depannya. Tepat di titik triangulasi awal ras manusia Jawa di hulu Bengawan itu. Bukankah di kiri kanan area itu terdapat banyak pohon Klampis hitam, di selatan desa Getas ada tempat dengan nama gunung Rambut? 

Jari telunjuk kiri dari Semar, adalah arah kemana Sungai terpanjang di Jawa itu mengalir, dan apabila kemudian dijumpai bahwa jari itu lebih ke arah bawah, maka sebenarnya sang Semar ingin sekali lagi menunjukkan, bahwa disitulah letak sumber mineral yang kelak pada sebuah masa akan menguasai dunia, yaitu tepat di bawah perut bumi Blora.

Tentang penulis : Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

  • Bagikan