fbpx

SEMPAT VAKUM KARENA PPKM, KOMUNITAS GEMA KEMBALI AKTIF DISKUSI

  • Bagikan
Jagong Bareng Kumpul Sedulur Lintas Agama.

Blora – Komunitas Generasi Muda Lintas Agama (Gema) dulu sempat vakum menggelar diskusi rutin dikarenakan PPKM, kini kembali aktif diskusi. Kali ini diskusinya bertajuk “Jagong Bareng Kumpul Sedulur Lintas Agama.” Bertempat di Gor Gereja Katolik Santo Pius X Blora (Gereja Kapal).

Ketua Gema, Muhammad Irkham Sahidin menyampaikan bahwa dari jagong bareng ini harapannya kita bisa membangun miniatur kebhinnekaan di kabupaten Blora. Karena keberagaman itu adalah rahmat tuhan yang harus kita syukuri, melalui rasa kemanusiaan kita bisa disatukan untuk menaburkan energi positif bagi lingkungan sekitar kita.

“Dulu sempat vakum karena PPKM, anugrah yang sangat besar hari ini kita bisa kumpul bersama lagi. Ini merupakan forum lintas agama, apapun agamanya bisa ikut gabung dalam forum ini dan tujuan kita adalah membangun taman indah yang dihiasi dengan banyak bunga,” ucapnya, Jumat (29/10).

Diskusi jagong bareng menitik fokuskan pada wawasan kebangsaan berbasis nilai-nilai kearifan lokal untuk membentuk generasi Pancasila, dipantik oleh Pemerhati Sejarah, Dalhar Muhammadun, sisi lainnya juga sebagai Litbang Bloranews.com

Romo Gereja Katolik Santo Pius X Blora, Eko Wiyono mengapresiasi kegiatan jaong bareng tersebut. Menurutnya ruang kebersamaan perlu kita bangun. Ia mengajak untuk melangkah bersama, berjuang bersama.

“Ini rumah kita bersama, tempat kita bertemu, belajar dan berbagi. Tanpa ada yang merasa lebih pintar, semakin mendewasakan pribadi kita. semoga dengan kebersamaan kita bisa semakin lekat dengan yang lain, apa yang kita dapatkan akan menjadi energi yang positif,” jelasnya.

Peserta kegiatan Jagong Bareng Kumpul Sedulur Lintas Agama tidak hanya dari Blora, namun juga ada dari Papua, Flores, Kupang dan Timur leste, saat ini berdomisili di Asrama Pancasila di SMA Katolik Blora. Termasuk juga beberapa yang hadir dari OMK dan Gusdurian Blora maupun atas pribadi sendiri.

Romo Eko menambahkan bahwa sikap toleran patut kita jaga, inilah bentuk keberagaman. Kita memang tidak tahu detail ketidakadilan zaman dulu, tapi kita coba memulihkan dengan sesuatu yang baru.

“Diskusi kita tidak melihat kuantitas, tapi kualitas. Meskipun malam hari ini kita sedikit tapi bermutu, dengan kajian yang diberikan oleh Kak Madun menyoal peristiwa sejarah 1965 di Blora,” imbuhnya. (jml).

  • Bagikan