SURAT UNTUK STELLA DI BELANDA 1900

Pergi ke Eropa. Itulah suatu cita-cita saya, yang akan tinggal sampai hari mautku. Sekiranya aku dapat memperkecil tubuhku sampai siapa saja dapat menyisipkan ke dalam sampul surat ini, maka pergilah aku bersama-sama dengan surat ini mengunjungi engkau, Stella, dan kepada saudara saja laki-laki yang kucintai dan kepada…. Diam, cukuplah hingga ini. Bukan kesalahanku, Stella, jikalau disana-sini menulis perkataan yang tak berguna. Gamelan kaca di pendopo lebih bisa berceritera hal itu kepadamu daripadaku. Ia menyanyikan lagu kami bertiga. Ia bukan nyanyian, bukan lagu, melainkan bunyi dan suara, amat lemah, amat lembut dan bertukar-tukar, mendengung-dengung tak berketentu, tetapi bagus, sehingga menawan dan membimbangkan hati orang. 

 

Kartini

Kartini

 

Bukannya bunyi gelas atau bunyi kuningan dan kayu, yang terdengar di pendopo itu, namun bunyi itu ialah suara nyawa manusia, yang mencoba berkata kepada kita. Sebentar keluh kesah, lalu sebentar ratap tangis, dan sekali-kali tertawa kegirangan. Maka semangatku pun serasa terbang bersama dengan bunyi lembut dan merdu itu keatas langit yang tinggi, biru dan renggang itu pergi keawan yang putih dan kebintang-bintang, cahaya-cahaya. Sementara itu suara yang lembab pun naiklah pula ke udara; akupun merasa dibawa pula oleh bunyi itu melalui lembah yang gelap, jurang yang dalam, melalui muramnya hutan rimba, semak belukar yang tak sanggup diarungi. 

Maka hatiku gementar dan lisut rasanya, karena ketakutan, kesakitan dan kedukaan. Heran sekali, sungguh meski telah beribu kali terdengar olehku „Ginonjing”, tetapi tak satu pun bunyi dan suara gamelan yang dapat kuartikan. Apabila gamelan telah diam, tak sebuah lagu yang dapat kuketahui. Semuanya hilang dari ingatanku. Aku tak dapat mendengar Ginonjing lagi, dengan tiada menawan di hati. Sedangkan bila mendengar bunyi pertama dari suara yang indah itu, maka melayang lah semangatku. Sebenarnya aku tak suka mendengar lagu yang murung, tetapi tak dapat kutahan hatiku untuk mendengar kan suara lemah lembut itu, yang menceriterakan kepadaku, hal keadaan kala dulu dan yang akan datang. Sepertinya, bunyi-bunyian merdu itu bernapas menghembuskan kain selubung, menyelubungi segala sesuatu yang sulit, yang akan datang. Terang seperti bulan, siang seperti hari, segala rupa dimataku tentang segala sesuatu yang akan datang. Gemetar seluruh tulang sendiku, bila kulihat, orang-orang yang muram dan gelap itu berlalu dimukaku. Saja tak suka melihatnya, tetapi apa hendak dibuat, mataku tak mau dipejamkan, selalu terbuka. Pada kakiku terbentang sebuah jurang yang terlalu dalam, yang amat memusingkan kepala. Bila saja melihat keatas, terbentang langit yang hijau diatas kepalaku. Sinar matahari bagai emas itu memancar dengan manjanya, seolah-olah bermain-main dengan awan putih dan indah itu; dalam hatikupun terbitlah suatu cahaya juga.

….

O, Stella, tahukah engkau, berapa sakitnya itu, bila engkau cinta sekali hendak mengerjakan sesuatu, tetapi kehendakmu itu tidak dapat kaulakukan, oleh karena ketiadaan dan kekurangan ? 

Jikalau bapakku mau menolong kami, maka sudah pasti dan tak dua hati ia mengirim kami ketanah airmu, yang jauh dan dingin itu. Saya pandai juga menggambar dan melukis, tetapi karang-mengarang dan tulis-menulis lebih aku sukai dari pada menggambar. Mengertikah engkau, sekarang apa sebabnya? Maka aku sungguh ingin mengetahui bahasamu, yang bagus itu dengan sebaik mungkin. Janganlah engkau memperdayaku. Akupun sadar, bahwa kepandaianku dalam bahasa Belanda belum sempurna. Bila pengetahuanku tentang bahasa Belanda sudah cukup, maka bolehlah dikatakan nasibku untuk hari kemudian sudah tentu. Sebidang padang yang luas, terbentanglah sudah tempat saja bekerja, dan akupun menjadi orang yang merdeka.

Sebab aku seorang perempuan Jawa sejati, aku tahu dan kenal, akan segala hal keadaan dalam dunia bangsa jawa. Meski seorang Eropa, yang bertahun-tahun hidup di Jawa, dan tahu keadaan Bumiputera sekalipun, tiadalah seperti seorang anak Bumiputera sendiri, bagaimana mengetahui adat-adat Bumiputera itu. Banyak hal yang sekarang masih tersembunyi dan yang tak dipahami oleh bangsa Eropa sanggup aku terangkan dengan kata sepatah dua saja. Tempat-tempat yang tak boleh dimasuki oleh bangsa Eropa, tentu dapat didatangi oleh anak Bumiputera. Sekalian perkara yang pelik-pelik, yang terdapat dalam dunia bangsa Bumiputera, yang belum diketahui oleh ahli jang termasyur tentang tanah Hindia, dapatlah diuraikan seorang anak Bumiputera. Aku sendiripun merasakan itu, aku yang tak berpengetahuan cukup dalam bahasa Belanda, Stella.

Tentu, orang-orang akan tertawa gelak-gelak, bila ia dapat membaca kertas yang secarik kecil ini dari belakang saja. Betapakah gila pikiranku, bukan? Saya, seorang yang tiada terpelajar dan tiada berpengetahuan sedikit juapun, hendak pula mencoba mempelajari ilmu kitab bahasa Belanda. Sungguhpun jika engkau mentertawakanku, tetapi aku tahu, engkau tak suka mentertawakanku, maka tak akan aku buang maksud hatiku itu. Betul, pekerjaan itu suatu pekerjaan yang sia-sia. Tetapi “siapa yang tiada mencoba, tidaklah menang.” Demikianlah asasku. Maju saja, tunggang hilang berani mati. Siapa yang berani, dapat mengalahkan tiga perempat dunia.

….

Terjemahan bebas surat-surat Kartini kepada Stella di Belanda tahun 1900.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan