SURONAN DI BLORA : TAUSYIAH HABIB YAHYA DI HAUL NGAMPEL

Haul Ngampel Blora

Habib Yahya menyampaikan tausyiah dalam Haul Syekh Abdul Qohar Ngampelgading Blora pada Jumat malam (14.10.2016)

BLORA – Daya tarik Haul Syekh Abdul Qohar Ngampelgading Blora memang benar-benar mengagumkan. Ribuan tamu dari berbagai kota mengunjungi agenda tahunan ini untuk ngalap berkah (berharap keberkahan) Sang Wali. Tentu saja, jumlah tamu yang luar biasa banyak ini membuat para pedagang ciindera mata dan Jenang panen raya. Jenang atau dodol merupakan jajanan khas Haul Syeh Abdul Qohar Ngampelgading Blora.

Jumat malam (14.10.2016), Bloranews.com mengunjungi Haul Syeh Abdul Qohar Ngampelgading di desa Ngampel kecamatan Blora. Kompleks Pesarean Syeh Abdul Qohar telah dipenuhi para peziarah yang membaca tahlil dan bacaan-bacaan lainnya. Sebagian besar peziarah datang dalam sebuah rombongan dengan seorang pemimpin tahlil masing-masing.

Di sebelah Makam Syeh Abdul Qohar, panitia haul menyiapkan panggung dan tikar. Malam tadi, dilaksanakan tahtiman Al Qur’an 30 Juz’ secara bin Nadhlar. Tahtiman bin Nadhlar merupakan aktivitas membaca Al Qur’an dengan melihat, kebalikannya adalah bil Ghoib (tahtiman bil Ghoib biasa dilakukan oleh para penghafal al-Qur’an). Tahtiman bin Nadhlar Haul Syeh Abdul Qohar Ngampelgading dilakukan oleh para santri dari Pondok Pesantren Al Hikmah Ngadipurwo.

Setelah tahtiman, dilanjutkan dengan penyampaian mauidzoh hasanah (ceramah) oleh KH. Burhaduddin dari kabupaten Rembang. Kyai Burhan menjelaskan kepada peziarah pentingnya meneladani sikap dan perjuangan ulama-ulama jaman dulu. Setelah mauidzoh hasanah disampaikan oleh KH. Burhanuddin, kegiatan dilanjutkan dengan tausyiah dari Habib Yahya dari Grobogan.

Dalam tausyiahnya Habib Yahya menekankan pentingnya menjaga hubungan batin dengan para pendahulu. “Tombo ati kelima adalah wong kang soleh kumpulono, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Jaman sekarang ini sulit sekali mencari orang sholeh yang masih hidup, maka peringatan haul seperti ini penting untuk tetap dipertahankan. Haul, manaqiban, tahlilan dan selametan bukan perbuatan musyrik”  jelas Habib Yahya.

“Untuk menentukan hukum harus belajar secara mendalam. Sanad (mata rantai ilmu) harus tersambung. Jangan hanya belajar dari radio” lanjut Habib Yahya disambut gelak tawa peziarah.

 Habib Yahya mengapresiasi tradisi Haul Syeh Abdul Qohar Ngampelgading yang dilaksanakan secara rutin. Kepada masyarakat luas beliau juga berpesan untuk tidak mudah terpengaruh dengan aliran-aliran baru yang mudah mengkafirkan orang yang melaksanakan tradisi dan budaya lokal.

Reporter          : Sahal Mamur

Foto                 : Az Zulfa

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.