SYEH ABDUL QOHAR NGAMPEL GADING BLORA : SANG BANGSAWAN PENGEMBARA

Ngampelgading ( 09/02/2016 ) Islam, sebagai agama mayoritas di tanah air diperkenalkan oleh para ulama dengan banyak cara. Pendekatan asimilasi dan akulturasi kebudayaan kerap dilakukan golongan pemikir muslim ini demi memperkenalkan islam sebagai agama yang cinta perdamaian dan menghormati kemanusiaan. Tidak sedikit ulama yang mengadaptasi budaya setempat kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga budaya lokal tersebut terdapat nilai – nilai islam.

 

Ngampelgading ( 09/02/2016 ) Islam, sebagai agama mayoritas di tanah air diperkenalkan oleh para ulama dengan banyak cara. Pendekatan asimilasi dan akulturasi kebudayaan kerap dilakukan golongan pemikir muslim ini demi memperkenalkan islam sebagai agama yang cinta perdamaian dan menghormati kemanusiaan. Tidak sedikit ulama yang mengadaptasi budaya setempat kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga budaya lokal tersebut terdapat nilai – nilai islam. Makam Syeh Abdul Qohar di desa Ngampelgading Kecamatan Blora menjadi salah satu bukti bahwa para ulama islam dapat mengkolaborasikan dua nial sekaligus, ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an dalam rangka membentuk kepribadian sebuah masyarakat. Tidak heran, masyarakat desa Ngampelgading memiliki kebanggaan terhadap ulama pengembara ini.

Papan informasi dilokasi

 

Makam Syeh Abdul Qohar di desa Ngampelgading Kecamatan Blora menjadi salah satu bukti bahwa para ulama islam dapat mengkolaborasikan dua nial sekaligus, ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an dalam rangka membentuk kepribadian sebuah masyarakat. Tidak heran, masyarakat desa Ngampelgading memiliki kebanggaan terhadap ulama pengembara ini.

 

Dalam manuskrip setebal dua puluh tiga halaman ini diceritakan secara ringkas tentang riwayat dan silsilah Syeh Abdul Qohar Ngampelgading. Selain berisi sejarah ringkas dan silsilah, dalam manuskrip ini juga disampaikan tentang hukum berziarah / mengunjungi pekuburan muslim. Dalam satu bab secara khusus membicarakan tentang fadhilah ( keutamaan ) dan tata krama salah satu amalan Islam Nusantara ini.

Jalan menuju bangunan utama makam

 

Bloranews.com mengunjungi Mbah Kurdi ( 45 ), salah satu tokoh desa Ngampelgading. Dengan pengalaman beliau selama delapan tahun menjadi penanggung jawab terlaksananya  peringatan tahunan Syeh Abdul Qohar, Mbah Kurdi menyampaikan betapa beratnya meneruskan perjuangan Syeh Abul Qohar. Tidak hanya dalam membina kaum muda dengan menjadi pengajar sebuah madrasah diniyah di desa Ngampelgading, membantu masyarakat yang sedang ditimpa kemalangan semisal sakit atau masalah rumah tangga menjadi aktivitas Mbah Kurdi disamping kegiatan hariannya, bertani.

 

Mbah Kurdi tidak banyak bercerita mengenai Syeh Abdul Qohar Ngampelgading, beliau meminjamkan sebuah manuskrip kepada Bloranews.com sebagai referensi pustaka untuk mengetahui riwayat ringkas ulama kharismatik ini. Dalam manuskrip setebal dua puluh tiga halaman ini diceritakan secara ringkas tentang riwayat dan silsilah Syeh Abdul Qohar Ngampelgading. Selain berisi sejarah ringkas dan silsilah, dalam manuskrip ini juga disampaikan tentang hukum berziarah / mengunjungi pekuburan muslim. Dalam satu bab secara khusus membicarakan tentang fadhilah ( keutamaan ) dan tata krama salah satu amalan Islam Nusantara ini.

Bangunan utama makam

 

Mbah Kurdi tidak banyak bercerita mengenai Syeh Abdul Qohar Ngampelgading, beliau meminjamkan sebuah manuskrip kepada Bloranews.com sebagai referensi pustaka untuk mengetahui riwayat ringkas ulama kharismatik ini.

Dalam manuskrip setebal dua puluh tiga halaman ini diceritakan secara ringkas tentang riwayat dan silsilah Syeh Abdul Qohar Ngampelgading. Selain berisi sejarah ringkas dan silsilah, dalam manuskrip ini juga disampaikan tentang hukum berziarah / mengunjungi pekuburan muslim. Dalam satu bab secara khusus membicarakan tentang fadhilah ( keutamaan ) dan tata krama salah satu amalan Islam Nusantara ini.

Diceritakan bahwa Syeh Abdul Qohar merupakan salah satu keturunan Kesultanan Demak, dari garis Joko Tingkir ( Hadiwijaya ). Urutan silsilahnya menurut manuskrip karya Muhammad Sa’id Hadi Ngadipurwo Blora ini adalah sebagai berikut. Hadiwijaya menikahi putri Sultan Trenggono kemudian lahirlah Sumahadiningrat. Ketika telah dewasa, Sumahadiningrat menikah dan memiliki satu putri dan dua putra. Putri itu bernama Nyai Ageng Malduwut ( Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban ). Dan dua putra masing – masing Syeh Abdul Qohar Ngampelgading dan Kyai Abdullah Mutamakkin Kajen Kabupaten Pati.

Syeh Abdul Qohar, pada masa mudanya memiliki kebiasaan mengembara. Seolah beliau tidak menghiraukan status kebngsawanan Demak yang melekat pada pribadi beliau, perjalanan mengikuti arus sungaipun dilakukan. Sampai suatu ketika, Syeh Abdul Qohar muda bertemu dengan salah satu ulama kharismatik dari desa Tambak Selo, sebuah desa di perbatasan Blora – Rembang saat ini. Ulama Kharismatik ini bernama Kyai Nur Faqih.

 

Syeh Abdul Qohar, pada masa mudanya memiliki kebiasaan mengembara. Seolah beliau tidak menghiraukan status kebngsawanan Demak yang melekat pada pribadi beliau, perjalanan mengikuti arus sungaipun dilakukan. Sampai suatu ketika, Syeh Abdul Qohar muda bertemu dengan salah satu ulama kharismatik dari desa Tambak Selo, sebuah desa di perbatasan Blora – Rembang saat ini. Ulama Kharismatik ini bernama Kyai Nur Faqih. Dalam sebuah dialog, Kyai Nur Faqih menegur kebiasaan Syeh Abdul Qohar yang menyukai aktivitas mengembara. Menghormati teguran Kyai Nur Faqih Tambak Selo, Syeh Abdul Qohar meminta saran tempat tinggal untuk menetap dan melakukan syiar agama islam.

Bangunan Utama tampak dari luar

 

Dalam sebuah dialog, Kyai Nur Faqih menegur kebiasaan Syeh Abdul Qohar yang menyukai aktivitas mengembara. Menghormati teguran Kyai Nur Faqih Tambak Selo, Syeh Abdul Qohar meminta saran tempat tinggal untuk menetap dan melakukan syiar agama islam.

Kyai Nur Faqih memberikan sebuah takir ( nasi yang dibungkus daun pisang ) kepada Syeh Abdul Qohar. Kyai Nur Faqih berpesan agar takir tersebut dihanyutkan di sungai, Syeh Abdul Qohar harus menetap di tempat dimana takir tersebut terhenti. Pada akhirnya takir tersebut terhenti di desa Ngampelgading Kecamatan Blora.

Di dengan Ngampelgading, Syeh Abdul Qohar menetap ditemani salah seorang santrinya dari tanah sunda. Tidak lama berselang, Syeh Abdul Qohar menikahi putri Ki Ageng Selo yang bernama Siti Zulaikho dan memiliki dua putri. Putri pertama bernama Siti Tarwiyah menikah dengan Raden Mas Iskandar, Putra Tumenggung Kedu. Putri Kedua bernama Siti Arofah menikah dengan Tumenggung Mayor Tuyuhan Putra Pangeran Sambu dari Lasem, Kabupaten Rembang.

 

Dalam sebuah dialog, Kyai Nur Faqih menegur kebiasaan Syeh Abdul Qohar yang menyukai aktivitas mengembara. Menghormati teguran Kyai Nur Faqih Tambak Selo, Syeh Abdul Qohar meminta saran tempat tinggal untuk menetap dan melakukan syiar agama islam. Kyai Nur Faqih memberikan sebuah takir ( nasi yang dibungkus daun pisang ) kepada Syeh Abdul Qohar. Kyai Nur Faqih berpesan agar takir tersebut dihanyutkan di sungai, Syeh Abdul Qohar harus menetap di tempat dimana takir tersebut terhenti. Pada akhirnya takir tersebut terhenti di desa Ngampelgading Kecamatan Blora.

Manuskrip silsilah mbah Abdul qohar

 

Mbah Kurdi menceritakan bahwa sebelum tahun 2000, Khaul ( peringatan tahunan ) Syeh Abdul Qohar dilaksanakan dalam satu hari, semenjak tahun 2002 Khaul dilaksanakan dalam empat hari dengan iringan banyak kegiatan keagamaan. Hal ini mengisyaratkan bahwa animo masyarakat dalam mengenang Syeh Abdul Qohar sangatlah besar. Sebagai penyebar Islam di Blora, juga sebagai bangsawan pengembara.

Reporter          : Bagas Ardiansyah

Fotografer        : Az Zulfa

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.